Jumat, 21 Agustus 2026

Dosen STAI Riyadlul Ulum Publikasikan Dua Riset Berdampak, Angkat Sejarah Galuh Timur dan Ekologi Budaya

Photo Author
Arman Odie, Portaloka
- Rabu, 19 Agustus 2026 | 19:22 WIB
Syarif Hidayat, STAI Riyadlul Ulum Condong Tasikmalaya (Dok. Pribadi Syarif Hidayat)
Syarif Hidayat, STAI Riyadlul Ulum Condong Tasikmalaya (Dok. Pribadi Syarif Hidayat)

Dengan demikian, pendidikan tidak hanya menghasilkan peserta didik yang memahami teori, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap lingkungan, menghargai budaya, memahami sejarah daerahnya, serta mampu melihat potensi ekonomi dan sosial yang ada di sekitarnya.

Penelitian Syarif tersebut menjadi salah satu upaya untuk mempertemukan pendidikan, budaya, sejarah, ekologi, dan gastronomi dalam satu ruang pembelajaran yang kontekstual.

Dari Memori Kolektif Menjadi Investasi Budaya

Dua penelitian tersebut menunjukkan konsistensi Syarif Hidayat dalam mengembangkan kajian yang berangkat dari kekayaan lokal Tatar Galuh.

Jika penelitian Hikayat Cihonje 1828 berfokus pada upaya mendokumentasikan memori kolektif dan sejarah lokal Galuh Timur, penelitian tentang gastronomi galendo membawa kekayaan budaya tersebut ke dalam ruang pendidikan.

Baca Juga: Peringati HUT ke-81 RI dan Hari Pramuka, MTs-MA GUPPI Al Barkah Ciamis Gelar Jalan Sehat dan Perlombaan

Keduanya memiliki pesan yang sama kekayaan lokal tidak cukup hanya dikenang, tetapi perlu diteliti, didokumentasikan, diajarkan, dan dikembangkan.

Bagi Syarif, riset tidak semestinya berhenti pada publikasi akademik. Hasil penelitian harus memiliki dampak nyata bagi masyarakat, dunia pendidikan, pelestarian budaya, dan pembangunan daerah.

Ia berharap penelitian sejarah dan budaya lokal ke depan semakin banyak dilakukan oleh akademisi, mahasiswa, komunitas, pemerintah, serta masyarakat. Dengan demikian, berbagai potongan sejarah dan kekayaan budaya yang tersebar di pelosok Tatar Galuh dapat terdokumentasikan secara lebih sistematis.

“Riset harus menjadi jembatan antara pengetahuan akademik dan kehidupan masyarakat. Apa yang ada di masyarakat harus bisa kembali kepada masyarakat dalam bentuk pengetahuan, pendidikan, pelestarian budaya, dan manfaat nyata,” pungkasnya.***

Halaman:

Editor: Arman Odie

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X