Menurut Syarif, sejarah lokal tidak semata-mata berbicara mengenai masa lalu. Lebih dari itu, sejarah merupakan sumber identitas, pendidikan karakter, penguatan kebudayaan, serta modal sosial untuk membangun masa depan masyarakat.
Menghubungkan Ekologi, Budaya, Gastronomi, dan Pendidikan
Selain penelitian sejarah, Syarif juga melakukan penelitian yang berkaitan dengan ekologi budaya, khususnya hubungan antara ekologi pariwisata, gastronomi, sejarah lokal, dan pendidikan.
Penelitian tersebut berjudul “Ecopedagogy-Based Islamic Education Management: Cultural Integration of Gastronomi Galendo in Local History Learning at Riyadlul Ulum Tasikmalaya University.” Penelitian ini telah dipublikasikan dalam jurnal ilmiah bereputasi SINTA 2.
Jurnal dapat dibaca di sini
Penelitian tersebut menawarkan gagasan bahwa proses pendidikan tidak seharusnya hanya berlangsung di dalam ruang kelas. Lingkungan alam, budaya, sejarah, tradisi, dan produk gastronomi masyarakat dapat menjadi laboratorium pembelajaran yang nyata.
Salah satu objek yang diangkat adalah galendo, produk pangan tradisional yang memiliki keterkaitan erat dengan kehidupan masyarakat Tatar Galuh. Galendo tidak hanya dipandang sebagai produk kuliner, tetapi juga sebagai bagian dari pengetahuan lokal, ekonomi masyarakat, sejarah, budaya, dan ekologi yang dapat diintegrasikan ke dalam proses pembelajaran.
Baca Juga: Ketika Guru Bersuara: Menagih Keadilan demi Masa Depan Indonesia
Pendekatan tersebut menjadi relevan dengan arah pendidikan yang semakin menekankan pembelajaran bermakna, kontekstual, diferensiasi, dan pembelajaran mendalam deep learning.
“Alam, budaya, sejarah dan gastronomi yang ada di masyarakat sesungguhnya dapat menjadi laboratorium pembelajaran. Peserta didik tidak hanya belajar mengenai konsep, tetapi juga belajar dari realitas yang ada di lingkungan mereka,” jelas Syarif.
Muatan Lokal Tatar Galuh sebagai Sumber Belajar
Gagasan tersebut juga memperkuat pentingnya muatan lokal dalam sistem pendidikan. Kekayaan Tatar Galuh, mulai dari sejarah, tradisi, lingkungan, kesenian, makanan tradisional hingga lanskap budaya, dapat dikembangkan menjadi konten pembelajaran yang kontekstual.
Dalam konteks pendidikan Islam, pendekatan ekopedagogi juga dapat diarahkan untuk membangun kesadaran bahwa manusia memiliki tanggung jawab dalam menjaga hubungan yang harmonis dengan alam dan lingkungan sosialnya.
Artikel Terkait
Keseruan Lomba Tangkap Bebek di Tengah Umbul Ponggok Klaten bagi Wisatawan saat Momen HUT RI
Menko PMK hingga Kepala BNPB Peringati HUT ke-81 RI di Lokasi Bencana, Komitmen Percepat Pemulihan
Sebanyak 490 Warga Binaan Lapas Kelas IIB Banjar Terima Remisi HUT Ke-81 RI, Lima Orang Langsung Bebas
Kepala SPPG Terancam Dipecat Buntut Kasus Keracunan MBG di Berastagi, BGN: Dapurnya Disuspend Berat
HUT RI ke-81 Ciamis, Semangat Kemerdekaan dari Tatar Galuh
228 Warga Binaan Lapas Ciamis Terima Remisi, Empat Orang Langsung Bebas
Upacara HUT ke-81 RI Kabupaten Ciamis Berlangsung Khidmat, Bupati Herdiat Sampaikan Pesan Mendalam untuk Masyarakat Tatar Galuh
Warga Dusun Depok Ciamis Antusias Ikuti Upacara HUT ke-81 RI, Rintik Hujan Tak Surutkan Semangat
Meriahkan Momen HUT RI, Umbul Pelem Klaten Tebar Uang Rp 5 Juta Ke Pengunjung Lewat Flying Fox
Kepala BGN Ungkap Dugaan Penyebab Keracunan MBG di Berastagi, Kepala SPPG Terancam Dipecat, Dapur Disuspend