Rabu, 19 Agustus 2026

Dosen STAI Riyadlul Ulum Publikasikan Dua Riset Berdampak, Angkat Sejarah Galuh Timur dan Ekologi Budaya

Photo Author
Arman Odie, Portaloka
- Rabu, 19 Agustus 2026 | 19:22 WIB
Syarif Hidayat, STAI Riyadlul Ulum Condong Tasikmalaya (Dok. Pribadi Syarif Hidayat)
Syarif Hidayat, STAI Riyadlul Ulum Condong Tasikmalaya (Dok. Pribadi Syarif Hidayat)

PORTALOKA.ID - Dosen Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Riyadlul Ulum Condong Tasikmalaya, Syarif Hidayat, resmi mempublikasikan dua hasil penelitian yang mengangkat kekayaan sejarah, budaya, ekologi, dan pendidikan berbasis kearifan lokal di kawasan Tatar Galuh, Jawa Barat.

Dua karya tersebut hadir dalam bentuk yang berbeda, yakni penelitian sejarah yang dibukukan dalam buku ber-ISBN dan penelitian pendidikan-budaya yang dipublikasikan pada jurnal ilmiah bereputasi SINTA 2. Keduanya memiliki benang merah yang sama, yaitu menjadikan kekayaan lokal sebagai sumber pengetahuan sekaligus aset budaya yang dapat diwariskan kepada generasi mendatang.

Salah satu karya tersebut berjudul “Hikayat Cihonje 1828: Peradaban Galuh Timur di Desa Bangunharja.” Penelitian ini dilakukan selama kurang lebih satu tahun dengan tujuan mengungkap berbagai fakta sejarah dan memori kolektif masyarakat yang berkembang di wilayah Galuh Timur, khususnya Desa Bangunharja.

Menurut Syarif, selama ini narasi mengenai Tatar Galuh cenderung lebih banyak dikaitkan dengan pusat-pusat pemerintahan dan kawasan yang telah dikenal dalam historiografi Galuh. Padahal, jejak peradaban Galuh juga tersebar di berbagai wilayah, termasuk kawasan timur yang memiliki kekayaan tradisi lisan, situs, toponimi, peninggalan budaya, serta memori kolektif masyarakat.

Baca Juga: BRI Eco Culture Market 2026 Bali Sukses Digelar, Dari Fesyen hingga Kuliner Laris Diburu

“Tatar Galuh tidak hanya berada di Ciamis kota atau wilayah utara. Sebaran peradabannya di wilayah timur juga penting untuk diungkap melalui fakta-fakta sejarah yang ada di masyarakat,” ujar Syarif.

Ia menjelaskan, penelitian sejarah lokal tidak selalu harus dimulai dari arsip tertulis. Ingatan masyarakat, cerita turun-temurun, tradisi, nama tempat, peninggalan, hingga berbagai fragmen informasi yang hidup di tengah masyarakat merupakan bagian penting dari konstruksi sejarah lokal.

Fragmen-fragmen tersebut, menurutnya, dapat dipandang sebagai “fuzzle-fuzzle” sejarah yang perlu dihimpun, diverifikasi, didokumentasikan, dan dikaji secara akademik. Jika tidak dilakukan, bukan tidak mungkin berbagai pengetahuan lokal tersebut perlahan hilang seiring perubahan generasi.

“Memori kolektif masyarakat adalah aset sekaligus investasi budaya. Ketika tidak didokumentasikan, kita berpotensi kehilangan sumber pengetahuan yang sangat berharga,” katanya.

Baca Juga: Sinergi UNNES dan MGMP Jepara: Bekali 64 Guru SMP Hadapi Era Koding dan Kecerdasan Artifisial

Tantangan Era Digital

Syarif melihat perkembangan teknologi informasi dan percepatan arus digital sebagai tantangan sekaligus peluang dalam pelestarian sejarah dan budaya lokal.

Perubahan pola komunikasi, gaya hidup, serta kebiasaan masyarakat yang semakin dipengaruhi oleh perkembangan teknologi menyebabkan sebagian tradisi dan pengetahuan lokal mengalami pergeseran. Karena itu, dokumentasi sejarah lokal dinilai semakin penting dilakukan.

Penelitian Hikayat Cihonje 1828 menjadi salah satu upaya untuk mengarsipkan pengetahuan dan memori kolektif masyarakat dalam bentuk karya ilmiah dan buku yang dapat menjadi bahan rujukan bagi generasi berikutnya.

Halaman:

Editor: Arman Odie

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X