Masjid Tua Dibakar
Obor-obor bergerak seperti ular menyusuri gelap. Arya Damar berjalan paling depan. Tangannya sendiri yang pertama melempar api ke dinding kayu.
Baca Juga: Serial Kanjeng Sunan - Bagian 9: Ketika Hantu Lebih Dipercaya daripada Manusia
Kayu kering mengerang, seolah mengadu pada langit. Api menjilat kaligrafi sederhana yang ditulis dengan arang, ayat yang belum sempat dipahami, kini lebih dulu menjadi abu.
Dodo Murtadho datang terlambat. Ia hanya sempat melihat nyala merah memantul di matanya. Kakinya gemetar, tapi bukan karena takut pada api, melainkan pada manusia yang tersenyum melihatnya.
“Kalian membakar rumah doa,” teriak Dodo.
“Kami membakar ancaman!” sahut Arya Damar.
Kanjeng Sunan berdiri di kejauhan. Tak ada teriakan. Tak ada kutukan. Wajahnya tenang, tapi matanya menyimpan luka yang dalam. Ia melihat masjid itu bukan sebagai bangunan, melainkan saksi niat baik yang ditolak dengan api.
Baca Juga: Misalin: Tradisi Budaya Galuh Salawe, Simbol Syi'ar Islam dalam Upacara Adat
“Api,” gumamnya pelan,
“Tak pernah membakar kebenaran. Ia hanya menguji siapa yang mampu menanggungnya.”
Saat masjid runtuh, sebagian warga bersorak, sebagian menunduk, sebagian lagi diam—diam yang paling berbahaya, karena di situlah keraguan mulai tumbuh.
Kampung Cimaung malam itu tak hanya kehilangan masjid. Ia kehilangan rasa malu.
Dan sejak api itu padam, perang yang sesungguhnya baru saja dimulai, bukan antara Islam dan adat, tetapi antara akal dan ketakutan, antara iman yang dirawat dan keyakinan yang membatu.
Baca Juga: Kaweruh Leluhur Galuh: Situs Gunung Galuh di Sindangrasa Kabupaten Ciamis
Di balik abu masjid tua, doa-doa tak mati. Ia hanya berpindah, menunggu waktu untuk kembali menyala, bukan sebagai api, melainkan cahaya.***