Pembaca yang budiman, di rubrik Lokacarita akan kami tampilkan serial cerpen Kanjeng Sunan yang berlatar belakang Kerajaan masa lalu. Kanjeng Sunan adalah sosok Waliyullah sosok yang mewakili ajaran langit dan bersentuhan dengan budaya Nusantara. Yuks kita ikuti kisahnya.
PORTALOKA.ID - Semakin hari dakwah Kanjeng Sunan semakin berat. Para penjaga tradisi leluhur mulai melawan.
Kemarin-kemarin belum membahayakan, tapi kali ini masjid tua yang digunakan untuk mengaji dibakar.
Malam ini kampung Cimaung kian malam kian asing pada dirinya sendiri. Angin yang dulu membawa bau padi kini menyelipkan bisik curiga karena ada niat jahat pembenci dakwah.
Burung-burung tak lagi hinggap di dahan tua, seolah tahu kampung ini sedang bersiap menelan api. Burung-burung terbang menjauh dan seolah-olah memberi kabar bakal ada bahaya.
Baca Juga: Serial Kanjeng Sunan - Bagian 7: Satu Tuhan Tapi Beda Jalan
Kanjeng Sunan duduk bersila di serambi masjid tua, bangunan kayu yang didirikan dengan niat bersih, bukan untuk menyingkirkan yang lama, melainkan menampung yang baru.
Masjid itu tak bertembok tinggi, tak berkubah megah. Hanya atap ijuk dan tiang kayu warisan hutan Cimaung. Di situlah doa-doa pertama dibisikkan dengan suara pelan, agar tak mengusik arwah leluhur yang masih dipercaya berjaga.
Namun justru kesenyapan itulah yang membuat para penjaga tradisi resah. Ini mengusik ketenangan para penjaga tradisi.
Bagi mereka, Kanjeng Sunan bukan sekadar pendatang. Ia dianggap retakan pertama pada tembok adat. Retakan kecil yang, bila dibiarkan, akan merobohkan seluruh keyakinan lama yang diwariskan dari Kerajaan Pajajaran hingga runtuh.
Baca Juga: Serial Kanjeng Sunan - Bagian 8: Setelah Raja Pergi, Siapa yang Tinggal?
Di balai kampung, Arya Damar berdiri. Dadanya membusung, matanya menyala oleh keyakinan yang mengeras. Ia keturunan juru kunci, pewaris mantra, penjaga pataka Sanghyang. Di hadapannya, para lelaki tua dan pemuda berikat kepala mendengarkan.
“Bukan ajarannya yang berbahaya,” kata Arya Damar, suaranya berat seperti batu basah.
“Yang berbahaya adalah ia mengajarkan orang berpikir.”
Malam itu keputusan lahir tanpa musyawarah panjang. Api dianggap jawaban paling cepat bagi kegelisahan yang tak mereka pahami. Arya pun memimpin pembakaran masjid tua.
Artikel Terkait
Guru Madrasah Honorer Diangkat Jadi PPPK, Sebegini Gaji dan Tunjangan per Bulannya
Curhat Guru PPPK Paruh Waktu Terima Gaji Rp50 Ribu hingga Viral di Media Sosial
Pemerintah Tanggapi Hasil Survei Indikator: Pemberantasan Korupsi Jadi Faktor Utama Kepercayaan Publik
2.378 PPPK Paruh Waktu Aceh Besar Resmi Dilantik, 2 Orang Mengundurkan Diri Sisanya Tunggu Penetapan Nomor Induk, Intip Kisaran Gajinya
SWAKKA Kunjungi Dishubkominfo Kabupaten Tasikmalaya, Saatnya Media Bersinergi
Kemenag Siapkan Skema Pengangkatan Guru Madrasah Swasta, Peluang jadi ASN Semakin Terbuka
EXPO MAN 2 Ciamis 2026: Lima Hari Merayakan Bakat, Solidaritas, dan Mimpi Pelajar Priangan Timur
Berhasil Lolos ke Liga 2, Laskar Singacala PSGC Ciamis Disambut Meriah Ribuan Masyarakat
Hadiri Panen Raya, Bupati Herdiat Canangkan Ciamis sebagai Kabupaten Organik pada 2026
Hadiri Seminar di Jatim, Sekjen Kemenag Kembali Tegaskan Pentingnya Tata Kelola dan Kesejahteraan Guru Madrasah