CIAMIS, PORTALOKA.ID - Entah sejak kapan ada tradisi Munggahan setiap menjelang Ramadhan tiba. Pun di negeri seribu situs Galuh, di setiap lokasi situs budaya, ada upacara adat Munggahan dengan nama lokal yang unik.
Di Situs Manguntapa Baregbeg ada tradisi Nadran. Di situs Ciungwanara ada Ngikis, di situs Kertabumi ada Merlawu dan di situs Penghulu Gusti Ciomas Panjalu ada tradisi Nyepuh.
Setiap tradisi ini digelar, perasaan semua orang sangat bahagia menyambut Ramadhan. Alam Galuh mulai terasa, udara Ciamis sejuk.
Pagi-pagi buta, kabut tipis masih menggantung di perbukitan, sementara suara azan Subuh bersahutan dari masjid-masjid kampung.
Baca Juga: Di World Economic Forum Davos 2026, Dirut BRI Tegaskan Peran Penting UMKM dalam Keuangan Global
Di saat seperti inilah, Kabupaten Ciamis pelan-pelan berubah wajah, bukan hanya menjadi daerah yang religius, tapi juga tujuan wisata religi yang makin dicari menjelang bulan suci.
Tradisi ziarah, tirakat, dan “nyiar berkah” bukan sekadar ritual turun-temurun bagi masyarakat Tatar Galuh. Ia tumbuh menjadi denyut spiritual yang menggerakkan langkah banyak orang, dari warga lokal hingga peziarah luar daerah.
Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Ciamis, Heryan Rusyandi, melihat fenomena ini sebagai kekuatan khas Ciamis yang tidak dimiliki semua daerah.
“Menjelang Ramadhan, kunjungan ke situs-situs religi di Ciamis selalu meningkat. Masyarakat ingin menyambut bulan suci dengan membersihkan hati, salah satunya melalui ziarah ke makam para tokoh penyebar Islam dan ulama besar di Ciamis,” ujar Heryan.
Baca Juga: Ibukota Galuh Ternyata di Baregbeg, Bukan di Astana Gede Kawali
Jejak spiritualitas di bumi Galuh
Ciamis dikenal sebagai wilayah yang kaya sejarah Islam. Makam para ulama, ajengan, dan tokoh penyebar dakwah tersebar di berbagai penjuru, menyatu dengan lanskap alam yang tenang perbukitan, sungai, dan pedesaan yang masih asri.
Bagi para peziarah, perjalanan ke tempat-tempat ini bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan perjalanan batin.
“Wisata religi itu bukan hanya soal datang, berfoto, lalu pulang. Ada nilai sejarah, nilai dakwah, dan nilai spiritual yang dirasakan langsung oleh pengunjung. Itu yang membuat orang selalu ingin kembali,” jelas Heryan.
Beberapa lokasi ziarah di Ciamis bahkan mulai dikenal lebih luas karena cerita-cerita keteladanan tokoh yang dimakamkan di sana. Dari sosok ulama penyebar Islam di pedalaman, hingga ajengan yang dikenal istiqamah mengajar santri tanpa pamrih, kisah mereka hidup kembali lewat para peziarah.
Artikel Terkait
Detik-detik 2 Pemuda di Kandangserang Pekalongan Niat Rapikan Kabel WiFi Endingnya Terkapar Tersengat Listrik, Begini Kondisinya
Penyebab Menteri KP Sakti Wahyu Trenggono Pingsan, Lelah Fisik dan Mental karena Musibah Pesawat ATR 42-500
Isak Tangis Iringi Pemakaman Engineer Pesawat ATR 42-500 di Polanharjo Klaten
Baznas Ciamis untuk Indonesia, Capaian Kinerja Satu Periode Kepemimpinan
Resep Crispy Fish and Chips Lezat Gurih dan Bikin Nagih, Ditambah Mayonaise Lemon Makin Segar
Streetfood Pontianak, Kaloci Mirip Mochy Jepang, Dihidangkan Dengan Taburan Kacang dan Wijen, Ini Dia Resep Cemilannya
Tabrakan Motor di Sewon Bantul Yogyakarta, 1 Orang Meninggal Dunia