Sejak kapan ada Islamisasi tradisi di Situs Ciungwanara Karangkamulyan Ciamis? Data dan dokumen yang sahih belum ditemukan, ini tulisan disusun berdasarkan perjalanan mengikuti upacara adat Ngikis setiap menjelang bulan Ramadhan.
PORTALOKA.ID - Situs Ciungwanara diyakini sebagai warisan Kerajaan Galuh yang didirikan oleh Eyang Writekandayun pada tahun 600 Masehi. Beda beberapa tahun dengan usia Nabi Muhammad SAW yang lahir 571 M.
Pertanyaan teologisnya, apakah doa-doa tawasul dan kalimat toyibah akan sampai pahalanya kepada leluhur Galuh yang telah moksa di alam Kahiyangan?
Pertanyaan ini sesungguhnya tidaklah bisa dijawab tuntas. Tapi entah siapa yang memulai, masyarakat Islam melakukan Islamisasi mantra kuno dengan doa Islam, terutama setiap menyambut bulan Ramadhan.
Setiap mengunjungi Desa Karangkamulyan, Kecamatan Cijeungjing, Kabupaten Ciamis, saya terbawa hanyut dalam keharuan suasana sakral.
Baca Juga: Nadran di Situs Ki Buyut Manguntapa: Jejak Budaya dan Syiar Islam di Baregbeg
Di bawah langit yang cerah menjelang bulan suci Ramadhan, suasana Situs Budaya Ciungwanara berubah dari sunyi menjadi ramai, bukan karena gemuruh modernitas, tetapi karena derap langkah manusia yang datang dari berbagai arah, membawa bambu, doa, dan harapan.
Inilah tradisi Ngikis, sebuah ritual yang sederhana namun sarat dengan makna kehidupan yang dalam.
Secara harfiah, Ngikis berarti memagar, tindakan memasang atau mengganti pagar bambu di sekitar pangcalikan, tempat singgasana leluhur di situs tersebut.
Secara historis, tradisi ini telah hidup dan dipraktikkan secara turun-temurun oleh masyarakat Karangkamulyan lebih dari satu setengah abad, diperkirakan sejak tahun 1800-an, meskipun tidak ada dokumen tertulis yang menetapkan tanggal pasti awalnya.
Namun, bagi saya, Ngikis bukan semata tentang pagar bambu yang berdiri di sekitar batu pangcalikan. Di hadapan batu yang berusia ratusan tahun itu, saya selalu merasa seperti dihadapkan pada sebuah cermin batin, di mana setiap orang, dalam bisik hatinya sendiri, mencoba memahami siapa dirinya, dari mana asalnya, dan ke mana tujuan hidupnya.
Ketika bambu-bambu dipasang satu per satu, bukan hanya pagar yang dibangun, tetapi batas-batas simbolis antara nilai-nilai baik dan buruk dalam kehidupan manusia mulai terlukis dalam benak setiap yang hadir.
Dalam arus tradisi ini, suasana gotong-royong terasa sangat kuat. Warga dari berbagai daerah sekitar datang membawa bambu, berbagi cerita, dan tertawa bersama, menyiapkan sesajian berupa nasi tumpeng dan buah-buahan yang kemudian dinikmati bersama di bawah pepohonan rindang.
Rutinitas ini bukan sekadar tradisi fisik, tetapi sebuah pakta janji kolektif untuk menjaga nilai-nilai kebersamaan, solidaritas, dan rasa hormat terhadap sesama.
Artikel Terkait
Resep Pepes Bandeng, Lezat Gurih dan Lebih Sehat, Masaknya Nggak Pakai Minyak
Cake Potong Mocca Cemilan di Akhir Pekan, Ini Resep Rahasianya Untuk Teman Ngopi
Menu Sambal Terasi dan Tempe Goreng Marinasi Yang Nendang di Akhir Pekan, Resep Sat-set Dijamin Bikin Melek Merem
Cara Membuat Ayam Goreng Kuning Tanpa Ungkep, Resep Sat-set Spesial Untuk Keluarga
PB PGSI Kecam Pernyataan Sekjen Kemenag Terkait Guru Madrasah Swasta
Tuai Kecaman, Sekjen Kemenag Akhirnya Minta Maaf atas Pernyataan Terkait Guru Madrasah Swasta
Serial Kanjeng Sunan Bagian 2: Bayangan di Antara Dua Alam
Rekrutmen PPPK Guru Sekolah Garuda Resmi Dibuka, Simak Syarat dan Link Pendaftarannya
Cara Sanggah Hasil Seleksi Administrasi KemenHAM 2025 yang Baik dan Benar, Cek Jadwalnya DI SINI!
Wakil Ketua ICCN Raffi Ahmad Kunjungi Subang, Bawa Harapan Baru bagi Ekraf Lokal