Minggu, 19 Juli 2026

Ngikis: Pertemuan Islam dan Tradisi Budaya Sanghyang Galuh

Photo Author
Bang Sufi, Portaloka
- Senin, 2 Februari 2026 | 09:50 WIB
Tradisi Ngikis di Situs Ciungwanara Karangkamulyan, Ciamis (budaya-indonesia.org)
Tradisi Ngikis di Situs Ciungwanara Karangkamulyan, Ciamis (budaya-indonesia.org)

Baca Juga: Serial Kanjeng Sunan Bagian 2: Bayangan di Antara Dua Alam

Saya melihat di sana bukan sekadar ritual, tetapi jaringan hubungan sosial yang mengikat generasi demi generasi.

Makna filosofis Ngikis, bagi saya, menjelma dalam dua dimensi yang saling terkait. Pertama, sebagai ritual pembersihan diri. Banyak orang datang dengan harapan hati yang lebih bersih, lahir dan batin, sebelum memasuki bulan puasa.

Dalam upacara ini, mengganti pagar bambu yang lama dengan yang baru menjadi semacam metafora: menanggalkan sifat-sifat buruk, hawa nafsu yang mengikat, dan nada-nada negatif dalam kehidupan.

Ritual ini mengajarkan, untuk menyambut sesuatu yang suci, seperti bulan Ramadan, kita juga perlu mensucikan diri kita sendiri terlebih dahulu.

Baca Juga: Serial Kanjeng Sunan: Bayang-bayang di Kampung Cimaung (Part 1)

Kedua, Ngikis mengingatkan saya pada hubungan antara masa lalu dan masa kini. Tradisi ini, yang merupakan hasil akulturasi antara kepercayaan asli masyarakat Sunda dan ajaran Islam, menunjukkan bagaimana sebuah komunitas memadukan nilai-nilai lama dan baru sehingga tetap relevan hingga kini.

Di sini, Ngikis bukan sekadar penghormatan terhadap leluhur, tetapi juga pengakuan atas jejak waktu yang terus bergerak, bagaimana setiap generasi mewariskan nilai, cerita, dan refleksi kepada generasi berikutnya.

Saat saya berdiri di pelataran situs, melihat warga menaburkan bunga di atas batu pangcalikan dan berdoa bersama, saya menyadari bahwa pesan yang dibawa upacara ini jauh lebih luas daripada yang tampak secara lahiriah.

Ini adalah pengingat bahwa dalam hidup, setiap manusia perlu menyusun pagar batinnya sendiri — batas-batas yang menjaga dari sifat negatif, keinginan yang tidak terkendali, dan perbuatan yang merugikan diri maupun orang lain.

Baca Juga: Nyepuh: Jejak Penyucian Diri dari Tanah Ciomas

Ngikis mengajarkan kita untuk terus memperbaharui dan memagari hati agar tetap teguh dalam nilai-nilai kemanusiaan.

Tidak mengherankan jika tradisi ini terus dipertahankan dan bahkan menjadi bagian dari kalender budaya di Kabupaten Ciamis.

Di tengah derasnya arus modernisasi, Ngikis tetap bertahan bukan karena keunikan ritualnya semata, tetapi karena nilai-nilai luhur yang diusungnya mampu berbicara kepada setiap hati yang bersedia mendengarkan.

Dalam kesunyian sesudah acara usai, ketika bambu-bambu pagar telah berdiri rapi dan kerumunan mulai bubar, saya sering termenung. Seolah ada suara lembut yang berkata:

Halaman:

Editor: Arman Odie

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Misalin: Kala Angin Syaban Menyapa dan Jiwa Berubah

Sabtu, 31 Januari 2026 | 15:12 WIB

Nyepuh: Jejak Penyucian Diri dari Tanah Ciomas

Jumat, 30 Januari 2026 | 08:55 WIB
X