Sabtu, 18 Juli 2026

Serial Kanjeng Sunan - Bagian 11: Fatwa dari Abu dan Asap

Photo Author
Bang Sufi, Portaloka
- Jumat, 13 Februari 2026 | 13:43 WIB
Ilustrasi - Arya Damar menghasut masyarakat Cimaung bahwa Kanjeng Sunan membawa ajaran sesat. (Portaloka.id)
Ilustrasi - Arya Damar menghasut masyarakat Cimaung bahwa Kanjeng Sunan membawa ajaran sesat. (Portaloka.id)

PORTALOKA.ID - Abu masjid itu belum sepenuhnya dingin ketika kabar lebih panas beredar dari warung ke warung.

“Dia sesat.”

Kalimat itu meluncur seperti panah, dilepas tanpa busur, tanpa malu. Sejak Arya Damar membakar masjid tua di tepi Kampung Cimaung—masjid yang dibangun dari kayu jati sisa runtuhan Pajajaran—api tak hanya menghanguskan tiang dan mimbar, tetapi juga menyalakan bara kecurigaan.

Kanjeng Sunan duduk di atas tanah yang masih berbau arang. Jubahnya sederhana, wajahnya tenang seperti orang yang sudah terlalu sering kehilangan untuk merasa terkejut.

Di kejauhan, para penjaga adat berkumpul di Bale Paseban. Mereka menyebut diri sebagai pelindung warisan leluhur. Di tangan mereka, tradisi bukan sekadar akar, melainkan pagar berduri.

Baca Juga: Serial Kanjeng Sunan - Bagian 8: Setelah Raja Pergi, Siapa yang Tinggal?

“Kanjeng Sunan mengubah tatanan,” ujar seorang tetua adat dengan suara berat.
“Ia melarang sesaji di batu keramat.”
“Ia mengganti mantra dengan ayat.”
“Ia mengajarkan anak-anak membaca kitab, bukan membaca tanda asap.”

Nama Kanjeng Sunan kini disandingkan dengan kata yang mengerikan: ajaran sesat.

Padahal yang ia lakukan hanya mengajak warga menyembah Tuhan tanpa perantara rasa takut. Ia berkata bahwa hujan turun bukan karena kemenyan, dan panen gagal bukan karena kurang sesaji, melainkan karena tanah tak lagi dirawat.

Namun bagi sebagian orang, perubahan lebih menakutkan daripada kelaparan.

Baca Juga: Serial Kanjeng Sunan - Bagian 9: Ketika Hantu Lebih Dipercaya daripada Manusia

Arya Damar, yang kemarin membakar masjid dengan dalih menjaga kemurnian leluhur, kini berdiri sebagai saksi utama dalam sidang adat. Wajahnya bersih dari jelaga, tapi lisannya masih berasap.

“Dia menghapus nama-nama leluhur dari doa,” tuduhnya.
“Dia mengajarkan bahwa kemuliaan bukan pada darah bangsawan, melainkan pada takwa. Ini penghinaan bagi garis keturunan kita!”

Warga terbelah.
Sebagian takut kehilangan adat.
Sebagian lagi diam-diam merasa tercerahkan.

Halaman:

Editor: Arman Odie

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Misalin: Kala Angin Syaban Menyapa dan Jiwa Berubah

Sabtu, 31 Januari 2026 | 15:12 WIB

Nyepuh: Jejak Penyucian Diri dari Tanah Ciomas

Jumat, 30 Januari 2026 | 08:55 WIB
X