Kamis, 4 Juni 2026

Serial Kanjeng Sunan - Bagian 8: Setelah Raja Pergi, Siapa yang Tinggal?

Photo Author
Bang Sufi, Portaloka
- Sabtu, 7 Februari 2026 | 14:35 WIB
Ilustrasi - Kanjeng Sunan membangun peradaban di wilayah Cimaung bekas Kerajaan Pajajaran (Portaloka.id)
Ilustrasi - Kanjeng Sunan membangun peradaban di wilayah Cimaung bekas Kerajaan Pajajaran (Portaloka.id)

Pembaca yang budiman, di rubrik Lokacarita akan kami tampilkan serial cerpen Kanjeng Sunan yang berlatar belakang Kerajaan masa lalu. Kanjeng Sunan adalah sosok Waliyullah sosok yang mewakili ajaran langit dan bersentuhan dengan budaya Nusantara. Yuks kita ikuti kisahnya.

 

PORTALOKA.ID - Kampung Cimaung kehilangan pemimpin kerajaan tapi kini hadir pemimpin spiritual yang mencerahkan. Mereka belajar berbusana dan bersuci dari sosok Kanjeng Sunan.

Kala itu, Kerajaan Pajajaran runtuh bukan dengan suara gemuruh, tapi dengan bunyi lirih: perut lapar, sawah terbengkalai, dan doa-doa yang tak lagi tahu alamat langitnya.

Di Kampung Cimaung, orang-orang masih menyebut nama raja dalam bisik, seolah jika diucapkan keras-keras, sisa-sisa kekuasaan itu akan runtuh lagi untuk kedua kalinya.

Di kampung dua dimensi itu, setengah nyata, setengah trauma, Kanjeng Sunan datang tanpa kuda, tanpa panji, tanpa silsilah kebesaran.

Baca Juga: Serial Kanjeng Sunan - Bagian 5: Perang Gaib yang Tak Usai

Ia hanya membawa satu hal yang paling ditakuti orang-orang Cimaung: pertanyaan.
“Kalau rajamu pergi,” kata Kanjeng Sunan pelan, “apakah akalmu ikut hijrah?”

Warga terdiam. Pertanyaan semacam itu berbahaya. Di Cimaung, bertanya sering dianggap pemberontakan.

Mengajarkan Bertahan Hidup, Bukan Menghafal Sejarah

Langkah pertama Kanjeng Sunan bukan dakwah di mimbar, tapi membongkar mitos kebesaran masa lalu. Para Prabu yang memimpin Galuh Pajajaran telah pergi dan menjadi kenangan. Tinggal nilai spiritnya yang tersisa.

Baca Juga: Serial Kanjeng Sunan - Bagian 6: Negeri Tak Bertuan, Cahaya Islam Mulai Bersinar

Karena itulah, Kanjeng Sunan meminta warga berhenti menyembah reruntuhan. Batu-batu bekas keraton tidak lagi boleh diciumi, tapi dipakai menahan tanah longsor.
Tombak pusaka dijadikan alat bercocok tanam.

Dan kitab-kitab lama yang hanya dibaca para elit, diminta dibaca ulang oleh rakyat, dengan pertanyaan, bukan kepatuhan.

Halaman:

Editor: Arman Odie

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Misalin: Kala Angin Syaban Menyapa dan Jiwa Berubah

Sabtu, 31 Januari 2026 | 15:12 WIB

Nyepuh: Jejak Penyucian Diri dari Tanah Ciomas

Jumat, 30 Januari 2026 | 08:55 WIB
X