“Sejarah,” kata Kanjeng Sunan, “bukan untuk disembah. Ia untuk diperbaiki.”
Sindiran itu menusuk. Para tetua kampung merasa kehormatannya diremas-remas.
Baca Juga: Serial Kanjeng Sunan - Bagian 7: Satu Tuhan Tapi Beda Jalan
Tapi rakyat kecil mulai mengangguk, pelan, ragu, namun nyata.
Kanjeng Sunan mengganti mantra dengan Kerja
Di Cimaung, orang terbiasa mengusir lapar dengan jampi-jampi dan mantra.
Kanjeng Sunan menggantinya dengan cangkul dan gotong royong. Tidak boleh kepentingan perut dijawab dengan mantra.
Baca Juga: Ngikis: Pertemuan Islam dan Tradisi Budaya Sanghyang Galuh
Kanjeng Sunan berkata, shalat bukan pelarian dari dunia, tapi disiplin waktu. Puasa bukan sekadar menahan lapar, tapi belajar empati pada mereka yang selalu lapar.
Zakat bukan sedekah kasihan, tapi sistem ekonomi keadilan.
“Agama,” katanya tajam, “yang tak mengenyangkan tetanggamu, patut dicurigai.”
Kata-kata Kanjeng Sunan membuat orang sebagian tersinggung dan sebagian lagi mulai bekerja.
Satir untuk Para Penjaga Masa Lalu
Para penjaga adat lama menuduh Kanjeng Sunan menghancurkan jati diri Cimaung. Tapi Kanjeng Sunan hanya tersenyum.
Baca Juga: Hanjuang Bodas: Pohon Sakral Kerajaan Pajajaran Moksa Bersama Prabu Siliwangi
“Kalian menjaga tradisi,” ujarnya, “tapi lupa menjaga manusia.”
Artikel Terkait
Resmi Dilantik Jadi Wamenkeu, Juda Agung Siap Perkuat Pertumbuhan Ekonomi Nasional
2.600 PPPK Paruh Waktu Belum Terima SK, BKPSDM Depok Ungkap Penyebabnya
Serial Kanjeng Sunan - Bagian 7: Satu Tuhan Tapi Beda Jalan
Ketika 'Corvee' Menggema di Stadion Galuh Ciamis
Update Bantuan Insentif dan BSU Guru 2026: Nominal, Syarat dan Batas Akhir Aktivasi Rekening
Lantik 1.308 PPPK Paruh Waktu, Bupati Manggarai Barat Janji Perjuangkan Kesejahteraan Pegawai
Ramai Dikritik Warganet, Sekjen Gerindra Akhirnya Perintahkan Kader Bersihkan Bendera Partai
Mobil MBG Menabrak Gerbang SD di Kebumen, Sopir Sempat Mengamuk hingga Layangkan Pukulan ke Warga
Begini Respons Menteri Agama Terkait Usulan Guru Madrasah Swasta Diangkat jadi PPPK
Di Hadapan Para Rektor, Sekjen Kemenag Kembali Menyinggung Soal Guru Madrasah