Kamis, 4 Juni 2026

Serial Kanjeng Sunan - Bagian 10: Api di Cimaung, Ketika Doa Dibakar Amarah

Photo Author
Bang Sufi, Portaloka
- Selasa, 10 Februari 2026 | 09:54 WIB
Ilustrasi - Pasukan Arya Damar membakar masjid Kampung Cimaung yang didirikan oleh Kanjeng Sunan (Portaloka.id)
Ilustrasi - Pasukan Arya Damar membakar masjid Kampung Cimaung yang didirikan oleh Kanjeng Sunan (Portaloka.id)

Masjid Tua Dibakar

Obor-obor bergerak seperti ular menyusuri gelap. Arya Damar berjalan paling depan. Tangannya sendiri yang pertama melempar api ke dinding kayu.

Baca Juga: Serial Kanjeng Sunan - Bagian 9: Ketika Hantu Lebih Dipercaya daripada Manusia

Kayu kering mengerang, seolah mengadu pada langit. Api menjilat kaligrafi sederhana yang ditulis dengan arang, ayat yang belum sempat dipahami, kini lebih dulu menjadi abu.

Dodo Murtadho datang terlambat. Ia hanya sempat melihat nyala merah memantul di matanya. Kakinya gemetar, tapi bukan karena takut pada api, melainkan pada manusia yang tersenyum melihatnya.

“Kalian membakar rumah doa,” teriak Dodo.
“Kami membakar ancaman!” sahut Arya Damar.

Kanjeng Sunan berdiri di kejauhan. Tak ada teriakan. Tak ada kutukan. Wajahnya tenang, tapi matanya menyimpan luka yang dalam. Ia melihat masjid itu bukan sebagai bangunan, melainkan saksi niat baik yang ditolak dengan api.

Baca Juga: Misalin: Tradisi Budaya Galuh Salawe, Simbol Syi'ar Islam dalam Upacara Adat

“Api,” gumamnya pelan,
“Tak pernah membakar kebenaran. Ia hanya menguji siapa yang mampu menanggungnya.”

Saat masjid runtuh, sebagian warga bersorak, sebagian menunduk, sebagian lagi diam—diam yang paling berbahaya, karena di situlah keraguan mulai tumbuh.

Kampung Cimaung malam itu tak hanya kehilangan masjid. Ia kehilangan rasa malu.

Dan sejak api itu padam, perang yang sesungguhnya baru saja dimulai, bukan antara Islam dan adat, tetapi antara akal dan ketakutan, antara iman yang dirawat dan keyakinan yang membatu.

Baca Juga: Kaweruh Leluhur Galuh: Situs Gunung Galuh di Sindangrasa Kabupaten Ciamis

Di balik abu masjid tua, doa-doa tak mati. Ia hanya berpindah, menunggu waktu untuk kembali menyala, bukan sebagai api, melainkan cahaya.***

Halaman:

Editor: Arman Odie

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Misalin: Kala Angin Syaban Menyapa dan Jiwa Berubah

Sabtu, 31 Januari 2026 | 15:12 WIB

Nyepuh: Jejak Penyucian Diri dari Tanah Ciomas

Jumat, 30 Januari 2026 | 08:55 WIB
X