Satir itu menyebar seperti api kecil di jerami kering. Orang-orang mulai berani menertawakan ketakutannya sendiri. Dan tawa di kampung yang lama dikuasai duka, menjadi bentuk perlawanan paling radikal.
Pedihnya Dakwah Tanpa Janji Surga Instan
Kanjeng Sunan tidak menjanjikan surga cepat saji. Ia justru berkata:
“Surga itu jauh. Yang dekat adalah perut anak-anakmu yang kosong.”
Pedih. Tapi jujur.
Baca Juga: Kaweruh Leluhur Galuh: Situs Gunung Galuh di Sindangrasa Kabupaten Ciamis
Kanjeng Sunan kemudian membangun lumbung bersama, madrasah kecil, dan musyawarah kampung.
Ia menghapus kasta sisa Pajajaran, bangsawan dan jelata duduk sejajar, sama-sama bau tanah.*** (Bersambung)