CIAMIS, PORTALOKA.ID - Cahaya obor menembus gelapnya malam di halaman Kantor Kecamatan Kawali, Sabtu, 5 September 2026.
Api itu bukan sekadar penanda dimulainya sebuah pertunjukan budaya. Nyala obor menjadi simbol kebangkitan kembali Nyiar Lumar, sebuah perhelatan seni dan sejarah yang puluhan tahun sempat mati suri.
Nyiar Lumar 2026 kembali digelar sebagai ruang perjumpaan antara generasi masa kini dengan jejak panjang peradaban Galuh. Para seniman Kawali dan daerah sekitarnya menjadikan perhelatan ini sebagai persembahan budaya sekaligus upaya merawat ingatan sejarah yang tersimpan di tanah leluhur.
“Nyiar Lumar bukan sekadar pentas seni, tetapi jembatan antargenerasi untuk mengenalkan kekayaan sejarah Galuh di masa silam. Ini persembahan dari seniman Kawali dan sekitarnya,” ujar Ketua Pelaksana Nyiar Lumar 2026, Ocay Rosyadi.
Baca Juga: BRI Hadirkan Promo Menarik Menyambut Hari Pelanggan Nasional 2026, Dari Diskon hingga Promo Cashback
Sejak sore hari, suasana Kawali mulai dipenuhi warga dan pelaku seni. Alunan musik dari para siswa SMKN 1 Kawali menjadi pembuka rangkaian Nyiar Lumar 2026.
Pentas musik itu seolah menjadi penanda bahwa kebangkitan budaya tidak hanya berada di tangan generasi terdahulu. Anak-anak muda Kawali pun ikut mengambil bagian, menghidupkan kembali denyut kesenian di tengah perjalanan sejarah yang panjang.
Obor Nyiar Lumar Menyala, Kirab Dimulai
Memasuki malam hari, rangkaian acara berlanjut dengan seremoni pembukaan. Bupati Ciamis Herdiat Sunarya secara resmi membuka Nyiar Lumar 2026 dengan menyalakan obor.
Penyalaan obor menjadi salah satu momen paling sakral dalam pembukaan perhelatan budaya tersebut. Cahaya api yang menyala di tengah malam dimaknai sebagai simbol pencarian kembali “lumar” atau cahaya warisan leluhur yang selama ini tersimpan dalam perjalanan sejarah Galuh.
Usai menyalakan obor, Bupati Herdiat bersama para tokoh budaya, seniman, dan peserta kirab bergerak menuju Situs Astana Gede Kawali.
Kirab berjalan dalam suasana khidmat. Para peserta membawa obor, sementara iringan kesenian tradisional mengiringi perjalanan menuju kawasan yang menjadi salah satu pusat peninggalan sejarah Kerajaan Galuh tersebut.
Langkah demi langkah menuju Astana Gede seakan menjadi perjalanan simbolik menembus batas waktu. Dari Kawali masa kini, masyarakat diajak kembali menengok jejak masa silam, ketika Galuh pernah menjadi salah satu pusat peradaban penting di Tatar Sunda.
Artikel Terkait
Makanan MBG Tak Layak Jangan Sampai Dibagikan, Korwil Pendidikan Pamarican Ciamis Tegaskan Sekolah Wajib Identifikasi
MBG Tetap Disalurkan saat Sekolah Libur Akibat Karhutla, Begini Kata BGN
Kasus Dugaan Korupsi Kredit Bank BJB: Ajukan dengan Dokumen Fiktif hingga Kerugian Negara Mencapai Rp8,7 Miliar
Kasus Keracunan Tinggi, DPR Desak Dapur MBG Dialihkan ke Sekolah
Turut Mencerdaskan Anak Bangsa, Guru RA Berharap Diangkat jadi PPPK
Gunung Anak Krakatau Dilaporkan Alami Erupsi, Warga Cemaskan Adanya Dentuman Berulang
Warga Bandung Digegerkan dengan Suara Dentuman Misterius Ada Hubungannya dengan Erupsi Anak Krakatau?
Anggota DPR Fraksi PDIP Dorong RUU Perampasan Aset hingga Sasar Kejahatan Perbankan
Mitra SPPG di Ciamis Keluhkan Minim Sosialisasi dan Monitoring Standar IPAL Dapur MBG
MI Bojongsari Boyong 6 Gelar Juara Lomba LKBB Ampera Waterpark Championship 2026 antar SD/MI Tingkat Jawa Barat