Senin, 13 Juli 2026

Pembentukan Karakter Disiplin Siswa melalui Internalisasi Nilai-Nilai Pendidikan Islam di Madrasah Ibtidaiyah As Syukuriyah

Photo Author
Arman Odie, Portaloka
- Jumat, 29 Mei 2026 | 08:06 WIB
Suasana Kegiatan Belajar Mengajar di Madrasah Ibtidaiyah As Syukuriyah Sukabumi, Jawa Barat (Istimewa)
Suasana Kegiatan Belajar Mengajar di Madrasah Ibtidaiyah As Syukuriyah Sukabumi, Jawa Barat (Istimewa)

 

Oleh Heti Sumi Lestari, dkk


PORTALOKA.ID - Pendidikan merupakan pilar utama dalam membangun peradaban bangsa yang berkarakter. Di tengah arus modernisasi yang membawa dampak degradasi moral, pendidikan Islam hadir sebagai solusi untuk membentengi generasi muda melalui internalisasi nilai-nilai akhlakul karimah.

Salah satu dimensi akhlak yang paling fundamental dalam lingkungan pendidikan adalah kedisiplinan. Disiplin bukan sekadar kepatuhan terhadap aturan sekolah, melainkan sebuah bentuk kontrol diri yang bersumber dari kesadaran akan tanggung jawab, baik secara vertikal kepada Tuhan maupun horizontal kepada sesama.

Dalam konteks Madrasah As Syukuriyah, penanaman karakter disiplin menjadi prioritas utama guna menciptakan lingkungan belajar yang kondusif, tertib, dan religius.

Secara teoretis, disiplin dalam Islam berkaitan erat dengan konsep al-tazkiyah (penyucian jiwa) dan istiqamah. Sebagaimana dijelaskan dalam literatur pendidikan Islam klasik, disiplin merupakan manifestasi dari ketundukan seorang hamba terhadap aturan Allah SWT.

Baca Juga: Guru Swasta Bukan Beban Yayasan, Mereka Penjaga Masa Depan Bangsa

Sejalan dengan perspektif ini, para pakar pendidikan karakter seperti Thomas Lickona dalam bukunya Educating for Character menekankan bahwa disiplin diri adalah fondasi utama bagi kematangan moral seseorang. Tanpa disiplin, potensi intelektual seorang siswa akan sulit berkembang secara optimal.

Dalam ekosistem Madrasah As Syukuriyah, nilai-nilai disiplin tidak diajarkan secara terpisah, melainkan diintegrasikan ke dalam seluruh aktivitas sekolah, mulai dari disiplin waktu salat berjamaah, kedisiplinan dalam menuntut ilmu, hingga tata krama dalam berinteraksi.

Tantangan pembentukan karakter disiplin di era kontemporer semakin kompleks. Munculnya fenomena distraksi digital menjadi hambatan besar bagi siswa dalam mengelola waktu dan fokus belajar.

Penelitian terdahulu oleh Ryan dan Deci 2024 (Ryan & Deci, 2024a) mengenai Self-Determination Theory menunjukkan bahwa motivasi internal sangat menentukan persistensi siswa dalam menaati aturan. Artinya, disiplin yang lahir dari paksaan atau hukuman cenderung bersifat sementara, sedangkan disiplin yang lahir dari pemahaman nilai-nilai Islam akan menetap menjadi karakter permanen.

Baca Juga: Cerita Suratno, Guru Madrasah asal Pacitan, Rela Panen Porang Lebih Awal Demi Ikut Aksi SIAGA 2026 di Jakarta

Oleh karena itu, Madrasah As Syukuriyah berupaya mengalihkan paradigma disiplin dari yang bersifat represif (menghukum) menuju disiplin yang bersifat persuasif dan edukatif.

Pentingnya penelitian ini didasarkan pada kebutuhan untuk mendokumentasikan praktik baik (best practice) pendidikan di Madrasah As Syukuriyah. Madrasah ini mengintegrasikan pendidikan umum dengan nilai-nilai kepesantrenan yang kental. Dengan meninjau bagaimana sistem nilai Islam diterapkan, diharapkan penelitian ini dapat memberikan kontribusi teoretis bagi pengembangan manajemen pendidikan madrasah secara luas. Pendekatan yang dilakukan tidak hanya menyentuh aspek kognitif, melainkan juga aspek afektif dan psikomotorik siswa.

Dalam konteks global, literatur pendidikan Islam, seperti yang ditulis oleh Ashraf (2018), menegaskan bahwa tujuan utama pendidikan Islam adalah melahirkan manusia yang beradab (adab).

Halaman:

Editor: Arman Odie

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X