Oleh: Kang Galih (Galih Rimba Ariyana, S.Pd., Gr.)
PORTALOKA.ID - Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) telah membawa perubahan mendasar dalam ekosistem pendidikan global.
Kemampuan AI dalam menghasilkan informasi, menyusun materi pembelajaran, dan memberikan umpan balik secara cepat menimbulkan pertanyaan mengenai relevansi profesi guru pada masa depan.
Artikel ini bertujuan mereaktualisasi filosofi Jawa "Guru digugu lan ditiru" sebagai paradigma pendidikan yang tetap relevan di era digital.
Melalui pendekatan studi pustaka terhadap regulasi nasional, dokumen UNESCO, OECD, serta berbagai hasil penelitian internasional mengenai AI dalam pendidikan, artikel ini menunjukkan bahwa teknologi tidak dapat menggantikan fungsi guru sebagai pembentuk karakter, penanam nilai, dan teladan moral.
AI seyogianya diposisikan sebagai instrumen pendukung profesionalisme guru, bukan sebagai pengganti peran kemanusiaan dalam pendidikan.
Baca Juga: Paradoks Alokasi Anggaran: Antara Program Mercusuar dan Pemenuhan Hak Dasar Guru
Pendahuluan
Transformasi digital telah mengubah cara manusia memperoleh, mengolah, dan mendistribusikan pengetahuan. Kehadiran AI generatif memungkinkan peserta didik memperoleh jawaban atas berbagai persoalan akademik hanya dalam hitungan detik. Fenomena tersebut memunculkan kekhawatiran bahwa peran guru akan semakin berkurang.
Pandangan tersebut sesungguhnya kurang tepat. Pendidikan bukan sekadar proses transfer informasi, melainkan proses membentuk manusia secara utuh.
UNESCO menegaskan bahwa penerapan AI di bidang pendidikan harus tetap berorientasi pada manusia (human-centered AI) dengan menjunjung tinggi prinsip inklusivitas, kesetaraan, etika, dan perlindungan hak peserta didik. AI dipandang sebagai alat untuk memperkuat kualitas pembelajaran, bukan menggantikan pendidik.
Dalam konteks Indonesia, filosofi Jawa "Guru digugu lan ditiru" menjadi semakin relevan. Guru dipercaya karena kompetensinya dan diteladani karena integritasnya. Nilai tersebut merupakan fondasi pendidikan karakter yang tidak dapat direplikasi oleh teknologi.
Artikel Terkait
5 Peserta SPPI Kopdes Meninggal Dunia, Kemhan Ungkap Riwayat Penyakitnya
Latsar Calon Manajer Kopdes Jadi Sorotan, Kemhan Pastikan Pelatihan SPPI Berbeda dengan Pendidikan Militer untuk Prajurit
MI Bojongsari Sabet Gelar Juara Umum LKBB Tingkat Kabupaten Ciamis 2026, Pertahankan Tradisi Juara!
Apa Sebenarnya Tujuan Latsarmil? Latihan Dasar Militer yang Dinilai Wajib Diikuti Calon Manajer Kopdes Merah Putih dan KNMP
Jejak Karier dan Pendidikan Komisaris PT Krakatau Semen Indonesia Ahmad Najmi Shahab jadi Sorotan Warganet
BPJS Kesehatan Geser Pelayanan ke Berbasis Nilai Manfaat, Sasar Penanganan Jantung hingga Tekan Tren Caesar
Skandal Wafatnya dr. Icha Jadi Sorotan, Polisi Dalami Dugaan Intimidasi terhadap Dokter
Magang Nasional Buka Jalan Lulusan Baru hingga Penyandang Disabilitas Masuk Dunia Kerja, Penghasilan hingga Rp6 Juta
Promedia Group Gandeng Manava Collective Perkuat Program Pemberdayaan Masyarakat
Polisi Gelar Prarekonstruksi Kasus Taufik Hidayat, Penyekapan dan Penganiayaan Berat pada Kekasih di Bandung