Di sisi lain, lanjut Tedi, pemerintah pusat seringkali berdalih pada keterbatasan anggaran dan prioritas nasional yang bersifat makro.
Baca Juga: Perbandingan Gaji Pegawai SPPG MBG dengan Guru Honorer, Selisih Capai Rp4 Juta per Bulan
Akibatnya, madrasah swasta terjebak dalam ruang kosong kebijakan (policy vacuum), di mana tidak ada otoritas yang benar-benar mengambil tanggung jawab penuh.
Dampak dari absennya kebijakan afirmatif yang konkret dan berkelanjutan sangat nyata.
Kesejahteraan guru madrasah swasta berada jauh di bawah standar layak, baik dari sisi penghasilan, jaminan sosial, maupun kepastian karier.
"Banyak guru menjalankan tugas profesional dengan imbalan yang tidak sebanding, mengandalkan semangat pengabdian semata. Kondisi ini tidak hanya melanggar prinsip keadilan sosial, tetapi juga berpotensi menurunkan kualitas pendidikan dalam jangka panjang," tegas Tedi.***
Artikel Terkait
Sate Buntel Khas Solo Manis Legit Gurih dan Bikin Nagih, Ini Dia Resep Rahasianya
Punya Kale Jangan Cuma Dibikin Salad Aja! Masak Resep Tumis Kale Daging Sapi Gurih Renyah, Cocok Jadi Menu Diet
Layanan Kesehatan Gratis Pulihkan Harapan Warga Aceh Pascabencana
484 Honorer Kabupaten Poso Sudah Sah Jadi PPPK Paruh Waktu, Bupati Jelaskan Besaran Gaji yang Diterima
Momen Oknum Polisi-TNI Peluk dan Cium Tangan Pedagang Es Jadul usai Viral Tuduhan Tak Berdasar di Medsos
Kapolresta Sleman Kena Semprot DPR Buntut Kasus Suami Jadi Tersangka usai Lawan Penjambret, Keliru Jabarkan Isi Pasal KUHP