Pembaca yang budiman, di rubrik Lokacarita akan kami tampilkan serial cerpen Kanjeng Sunan yang berlatar belakang Kerajaan masa lalu. Kanjeng Sunan adalah sosok Waliyullah sosok yang mewakili ajaran langit dan bersentuhan dengan budaya Nusantara. Yuks kita ikuti kisahnya.
PORTALOKA.ID - Kampung Cimaung kehilangan pemimpin kerajaan tapi kini hadir pemimpin spiritual yang mencerahkan. Mereka belajar berbusana dan bersuci dari sosok Kanjeng Sunan.
Kala itu, Kerajaan Pajajaran runtuh bukan dengan suara gemuruh, tapi dengan bunyi lirih: perut lapar, sawah terbengkalai, dan doa-doa yang tak lagi tahu alamat langitnya.
Di Kampung Cimaung, orang-orang masih menyebut nama raja dalam bisik, seolah jika diucapkan keras-keras, sisa-sisa kekuasaan itu akan runtuh lagi untuk kedua kalinya.
Di kampung dua dimensi itu, setengah nyata, setengah trauma, Kanjeng Sunan datang tanpa kuda, tanpa panji, tanpa silsilah kebesaran.
Baca Juga: Serial Kanjeng Sunan - Bagian 5: Perang Gaib yang Tak Usai
Ia hanya membawa satu hal yang paling ditakuti orang-orang Cimaung: pertanyaan.
“Kalau rajamu pergi,” kata Kanjeng Sunan pelan, “apakah akalmu ikut hijrah?”
Warga terdiam. Pertanyaan semacam itu berbahaya. Di Cimaung, bertanya sering dianggap pemberontakan.
Mengajarkan Bertahan Hidup, Bukan Menghafal Sejarah
Langkah pertama Kanjeng Sunan bukan dakwah di mimbar, tapi membongkar mitos kebesaran masa lalu. Para Prabu yang memimpin Galuh Pajajaran telah pergi dan menjadi kenangan. Tinggal nilai spiritnya yang tersisa.
Baca Juga: Serial Kanjeng Sunan - Bagian 6: Negeri Tak Bertuan, Cahaya Islam Mulai Bersinar
Karena itulah, Kanjeng Sunan meminta warga berhenti menyembah reruntuhan. Batu-batu bekas keraton tidak lagi boleh diciumi, tapi dipakai menahan tanah longsor.
Tombak pusaka dijadikan alat bercocok tanam.
Dan kitab-kitab lama yang hanya dibaca para elit, diminta dibaca ulang oleh rakyat, dengan pertanyaan, bukan kepatuhan.