Kanjeng Sunan memandang ke arah bukit, tempat Arya Damar berdiri jauh di kegelapan.
“Karena setiap cahaya membuat bayangan merasa terancam,” ujarnya pelan. “Tapi tugas kita bukan memusnahkan bayangan. Tugas kita menyalakan pelita.”
Di kejauhan, Arya Damar mengepalkan tangan. Pertarungan belum selesai. Ini baru awal.
Dan Kampung Cimaung kampung dua dimensi, akan menjadi saksi, ketika bukan hanya manusia, tapi juga makhluk tak kasatmata, harus memilih: bertahan dalam bayang, atau melangkah menuju cahaya.*** (Bersambung)