Minggu, 19 Juli 2026

Serial Kanjeng Sunan Bagian 2: Bayangan di Antara Dua Alam

Photo Author
Bang Sufi, Portaloka
- Minggu, 1 Februari 2026 | 16:26 WIB
Ilustrasi - Kisah Kanjeng Sunan, sosok penyebar Islam di Kampung Cimaung (Portaloka.id - ChatGPT)
Ilustrasi - Kisah Kanjeng Sunan, sosok penyebar Islam di Kampung Cimaung (Portaloka.id - ChatGPT)

“Usir dia… sebelum semuanya berubah,” bisiknya.

Dodo menggenggam kayu bakar seperti senjata. Nafasnya berat, tapi matanya menyala oleh keyakinan.

“Kanjeng, izinkan saya!”

Kanjeng Sunan berdiri perlahan. Ia tidak membawa senjata apa pun. Hanya tasbih kayu di tangannya.

“Yang gelap tak akan pergi karena dipukul,” ucapnya lembut. “Ia pergi ketika cahaya dikenalkan.”

Beliau melangkah keluar surau. Bayangan-bayangan itu seperti ragu, tapi tetap mengurung. Udara makin pekat. Jika orang biasa berada di situ, mungkin jiwanya sudah lepas karena takut.

Baca Juga: Nyepuh: Jejak Penyucian Diri dari Tanah Ciomas

Kanjeng Sunan mengangkat wajahnya ke langit.

Dengan suara tenang, ia melantunkan ayat-ayat suci. Bukan keras, bukan berteriak, tapi setiap kata terasa seperti air jernih yang jatuh ke bara api.

Perlahan, suara ratapan berubah menjadi desis. Bayangan-bayangan itu mundur, bentuknya pecah seperti asap tersapu angin.

Di bukit itu, tubuh Arya Damar terhuyung. Matanya terbuka lebar.

“Tidak mungkin…” napasnya tercekat. “Makhluk itu… tak pernah kalah…”

Kabut mulai menipis. Lampu cempor menyala kembali, seolah tak pernah padam. Malam kembali sunyi, tapi bukan sunyi yang sama. Ada sesuatu yang berubah, seperti pintu tak terlihat baru saja terbuka.

Baca Juga: Sepanjang 2025, BRI Salurkan KUR Rp178,08 Triliun, Lebih dari 60 Persen ke Sektor Produksi Penggerak Ekonomi Rakyat

Dodo menatap gurunya dengan mata berkaca-kaca. “Kanjeng… kenapa mereka memusuhi panjenengan?”

Halaman:

Editor: Arman Odie

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Misalin: Kala Angin Syaban Menyapa dan Jiwa Berubah

Sabtu, 31 Januari 2026 | 15:12 WIB

Nyepuh: Jejak Penyucian Diri dari Tanah Ciomas

Jumat, 30 Januari 2026 | 08:55 WIB
X