lokacarita

Serial Kanjeng Sunan Bagian 2: Bayangan di Antara Dua Alam

Minggu, 1 Februari 2026 | 16:26 WIB
Ilustrasi - Kisah Kanjeng Sunan, sosok penyebar Islam di Kampung Cimaung (Portaloka.id - ChatGPT)

Pembaca yang budiman, di rubrik Lokacarita akan kami tampilkan serial cerpen Kanjeng Sunan yang berlatar belakang Kerajaan masa lalu. Kanjeng Sunan adalah sosok Waliyullah sosok yang mewakili ajaran langit dan bersentuhan dengan budaya Nusantara. Yuks kita ikuti kisahnya.

 

PORTALOKA.ID - Kabut turun lebih cepat di Kampung Cimaung. Bukan kabut biasa, ia seperti tirai tipis yang memisahkan dunia yang terlihat dan yang hanya bisa dirasakan.

Orang-orang tua kampung menyebutnya waktu perlintasan, saat batas antara alam manusia dan alam gaib menipis seperti kulit bawang.

Di saat seperti itu, suara langkah pun bisa terdengar seperti bisikan arwah. Berbagai jenis makhluk gaib konon bersembunyi dibalik angkernya hutan Cimaung.

Ini masih di zaman 1529 M saat Kanjeng Sunan membabat alas Cimaung. Tantangan dakwah bukan hanya manusia, tapi juga makhluk gaib.

Baca Juga: Misalin: Kala Angin Syaban Menyapa dan Jiwa Berubah

Menurut cerita yang berkembang, dulu ada ritual pemanggilan gaib untuk pesugihan dan pengorbanan nyawa agar damai sentosa. Konon itu warisan kepercayaan Bairawa.

Di tengah kampung Cimaung, Kanjeng Sunan duduk bersila di beranda surau bambu yang baru saja berdiri. Lampu cempor menyala tenang di sampingnya. Wajahnya teduh, seolah tidak ada apa pun di dunia ini yang mampu mengguncang hatinya.

Namun malam itu, tepat malam Jumat Kliwon, angin membawa kegelisahan. Aura gaib dan aura amarah manusia terasa dalam benak Kanjeng Sunan.

Di bukit sebelah timur, di bawah pohon kiara tua yang akarnya melilit batu-batu hitam, Arya Damar berdiri memandang ke arah surau kecil itu. Matanya tajam, rahangnya mengeras.

Baca Juga: Serial Kanjeng Sunan: Bayang-bayang di Kampung Cimaung (Part 1)

“Cimaung tidak butuh ajaran baru,” gumamnya pelan. “Leluhur kami sudah punya jalan sendiri. Sanghyang telah menjaga kampung ini sejak sebelum manusia mengenal kitab.”

Di belakangnya, dupa mengepul. Menyan dan sasajen dikomat kamit. Simbol-simbol kuno digambar di tanah dengan arang.

Halaman:

Tags

Terkini

Misalin: Kala Angin Syaban Menyapa dan Jiwa Berubah

Sabtu, 31 Januari 2026 | 15:12 WIB

Nyepuh: Jejak Penyucian Diri dari Tanah Ciomas

Jumat, 30 Januari 2026 | 08:55 WIB