pendidikan

Dosen STAI Riyadlul Ulum Publikasikan Dua Riset Berdampak, Angkat Sejarah Galuh Timur dan Ekologi Budaya

Rabu, 19 Agustus 2026 | 19:22 WIB
Syarif Hidayat, STAI Riyadlul Ulum Condong Tasikmalaya (Dok. Pribadi Syarif Hidayat)

Menurut Syarif, sejarah lokal tidak semata-mata berbicara mengenai masa lalu. Lebih dari itu, sejarah merupakan sumber identitas, pendidikan karakter, penguatan kebudayaan, serta modal sosial untuk membangun masa depan masyarakat.

Baca Juga: 8 Tuntutan BEM UI bersama 25 Aliansi pada Aksi Unjuk Rasa di Bundaran HI, di Antaranya Terkait Bencana

Menghubungkan Ekologi, Budaya, Gastronomi, dan Pendidikan

Selain penelitian sejarah, Syarif juga melakukan penelitian yang berkaitan dengan ekologi budaya, khususnya hubungan antara ekologi pariwisata, gastronomi, sejarah lokal, dan pendidikan.

Penelitian tersebut berjudul “Ecopedagogy-Based Islamic Education Management: Cultural Integration of Gastronomi Galendo in Local History Learning at Riyadlul Ulum Tasikmalaya University.” Penelitian ini telah dipublikasikan dalam jurnal ilmiah bereputasi SINTA 2.

Jurnal dapat dibaca di sini

Penelitian tersebut menawarkan gagasan bahwa proses pendidikan tidak seharusnya hanya berlangsung di dalam ruang kelas. Lingkungan alam, budaya, sejarah, tradisi, dan produk gastronomi masyarakat dapat menjadi laboratorium pembelajaran yang nyata.

Salah satu objek yang diangkat adalah galendo, produk pangan tradisional yang memiliki keterkaitan erat dengan kehidupan masyarakat Tatar Galuh. Galendo tidak hanya dipandang sebagai produk kuliner, tetapi juga sebagai bagian dari pengetahuan lokal, ekonomi masyarakat, sejarah, budaya, dan ekologi yang dapat diintegrasikan ke dalam proses pembelajaran.

Baca Juga: Ketika Guru Bersuara: Menagih Keadilan demi Masa Depan Indonesia

Pendekatan tersebut menjadi relevan dengan arah pendidikan yang semakin menekankan pembelajaran bermakna, kontekstual, diferensiasi, dan pembelajaran mendalam deep learning.

“Alam, budaya, sejarah dan gastronomi yang ada di masyarakat sesungguhnya dapat menjadi laboratorium pembelajaran. Peserta didik tidak hanya belajar mengenai konsep, tetapi juga belajar dari realitas yang ada di lingkungan mereka,” jelas Syarif.

Muatan Lokal Tatar Galuh sebagai Sumber Belajar

Gagasan tersebut juga memperkuat pentingnya muatan lokal dalam sistem pendidikan. Kekayaan Tatar Galuh, mulai dari sejarah, tradisi, lingkungan, kesenian, makanan tradisional hingga lanskap budaya, dapat dikembangkan menjadi konten pembelajaran yang kontekstual.

Dalam konteks pendidikan Islam, pendekatan ekopedagogi juga dapat diarahkan untuk membangun kesadaran bahwa manusia memiliki tanggung jawab dalam menjaga hubungan yang harmonis dengan alam dan lingkungan sosialnya.

Baca Juga: Pemerintah dan DPR Beri Peluang Guru PPPK dan PPPK Paruh Waktu jadi PNS 2027, MenPAN RB: Proyeksi Kebutuhan Guru Nasional 526.689 Formasi

Halaman:

Tags

Terkini