Di tengah kerumunan, seorang ibu tua berbisik, “Kalau ajaran sesat itu mengajarkan kami membaca, kenapa terasa seperti cahaya?”
Baca Juga: Serial Kanjeng Sunan - Bagian 10: Api di Cimaung, Ketika Doa Dibakar Amarah
Tapi bisik-bisik kalah oleh genderang sidang.
Kanjeng Sunan dipanggil ke tengah alun-alun. Tangannya tak diikat, namun tuduhan lebih kuat dari tali rotan.
“Benarkah engkau membawa ajaran baru yang tak sesuai dengan leluhur kami?” tanya ketua adat.
Kanjeng Sunan menatap satu per satu wajah yang dulu pernah ia obati dengan doa, yang pernah ia bantu bangkitkan dari reruntuhan perang.
“Aku tidak menghapus leluhur,” katanya pelan.
“Aku hanya mengajak kalian menyembah Tuhan yang juga menciptakan leluhur kalian.”
Baca Juga: Ngembang di Gunung Jaha: Doa-Doa yang Bangkit dari Sunyi Galuh
Hening.
“Adat adalah jalan,” lanjutnya, “tapi jangan sampai jalan itu mengurung kita dalam lingkaran. Leluhur kita besar karena berani berubah. Pajajaran runtuh bukan karena doa yang salah, tapi karena hati yang sombong.”
Kata-kata itu membuat beberapa orang menunduk. Namun bagi yang merasa kuasanya terancam, kalimat itu terdengar seperti pemberontakan.
Sidang belum memutuskan hukuman, tapi vonis sosial telah lebih dulu dijatuhkan.
Malam itu, rumah-rumah yang biasanya terbuka untuk Kanjeng Sunan mendadak tertutup. Anak-anak dilarang mengaji. Nama beliau dihapus dari percakapan, seolah-olah dengan menghapus nama, mereka bisa menghapus gagasan.
Baca Juga: Ibukota Galuh di Kawali, Bukan di Baregbeg, Ini Penjelasan Dewan Kebudayaan Kabupaten Ciamis
Namun di reruntuhan masjid yang hangus, beberapa pemuda diam-diam kembali berkumpul. Mereka membawa sisa kayu yang belum terbakar.