Kamis, 4 Juni 2026

Ngembang di Gunung Jaha: Doa-Doa yang Bangkit dari Sunyi Galuh

Photo Author
Bang Sufi, Portaloka
- Selasa, 10 Februari 2026 | 16:39 WIB
Masyarakat menggelar tradisi Ngembang di Situs Wiraoetama Linggasari Ciamis (Portaloka.id/Bang Sufi)
Masyarakat menggelar tradisi Ngembang di Situs Wiraoetama Linggasari Ciamis (Portaloka.id/Bang Sufi)

CIAMIS, PORTALOKA.ID - Kabut pagi masih menggantung di lereng Gunung Jaha ketika langkah-langkah warga Linggasari perlahan menapaki jalan setapak menuju Situs Wiraoetama yang oleh para sepuh disebut Jang Pati II.

Di sanalah, jauh sebelum Ciamis hari ini bernama Ciamis, denyut Kadipaten Cibatu pernah berdenyut, menjadi benih awal lahirnya Kadipaten Galuh.

Selasa pagi ini, 10 Februari 2016, ratusan warga datang tanpa gegap gempita. Tak ada teriakan, tak ada sorak. Yang terdengar hanya desir angin, gesek dedaunan, dan bisik doa yang kesunyian. Ada kirab pusaka dan upacara adat sedikit sebelum proses tawasulan.

Mereka datang membawa hajat yang sama: Mengikuti ritual Ngembang, sebuah tradisi budaya menjelang datangnya bulan suci Ramadhan yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Baca Juga: Ngikis: Pertemuan Islam dan Tradisi Budaya Sanghyang Galuh

Situs Wiraoetama tak sekadar tanah bertuah. Ia adalah saksi bisu jejak leluhur, tempat para karuhun Kadipaten Cibatu disemayamkan.

Di bawah rindangnya pepohonan tua, warga duduk bersila, menundukkan kepala, seakan waktu mundur berabad-abad ke masa kerajaan masih bertakhta.

Dipimpin tokoh agama setempat, tawasul pun dilantunkan. Doa-doa naik perlahan, memecah hening, memohon keselamatan dan ketentraman. Bukan hanya untuk Linggasari, bukan hanya untuk Ciamis, tetapi untuk negeri yang lebih luas: Indonesia.

Di antara jamaah, tampak Sekretaris Daerah Kabupaten Ciamis, Andang Firman, larut dalam kekhusyukan. Tanpa jarak jabatan, ia duduk sejajar bersama warga, menyatu dalam doa.

Baca Juga: Serial Kanjeng Sunan - Bagian 10: Api di Cimaung, Ketika Doa Dibakar Amarah

“Alhamdulillah, hari ini kita bisa berkumpul dan berdoa bersama di tempat yang sarat sejarah ini,” ucap Andang usai ritual.

“Kita memohon kepada Allah SWT agar masyarakat Ciamis senantiasa diberi keselamatan,” ujarnya.

Menurut Andnang, ritual Ngembang bukan hanya laku spiritual, tetapi juga ruang perjumpaan lintas peran. Tokoh agama, budayawan, masyarakat, hingga unsur pemerintahan hadir dalam satu ikatan kebersamaan, menjelang Ramadhan yang tinggal menghitung hari.

“Ini bukan sekadar doa, tapi juga silaturahmi. Sebuah pengingat bahwa kita punya akar budaya dan spiritual yang sama,” katanya.

Halaman:

Editor: Arman Odie

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X