Baca Juga: Kaweruh Leluhur Galuh: Situs Gunung Galuh di Sindangrasa Kabupaten Ciamis
Ketua Paguyuban Wiraoetama, Idin Jahidin, menambahkan, tradisi Ngembang memiliki makna yang dalam. Secara harfiah berarti wangi dan berkembang, namun secara batiniah ia adalah harapan untuk terus tumbuh dan berkembang.
“Ngembang itu doa agar daerah kami harum namanya, berkembang kehidupannya, dan masyarakatnya semakin sejahtera,” ujar Idin.
Baginya, ritual ini adalah jembatan antara masa lalu dan masa kini. Antara leluhur yang telah tiada dan generasi yang masih melangkah.
Di Situs Gunung Jaha warga Linggasari belajar kembali tentang asal-usul, tentang rasa hormat, dan tentang harapan yang terus dititipkan pada doa.
Baca Juga: Gerindra Ciamis Mulai Bangun Kantor Permanen, Momentum HUT ke-18 Jadi Penanda Konsolidasi
Ketika matahari kian meninggi, warga pun beranjak turun. Namun doa-doa yang terucap pagi itu seakan tertinggal, menetap di antara nisan tua dan pepohonan, menunggu waktu untuk menjelma berkah, sebagaimana Galuh pernah bangkit dari tanah sunyi, berabad-abad silam.
Kemudian acara dilanjutkan dengan makan dan minum sebagai penanda Munggahan.***
Artikel Terkait
Kemenag Siapkan Skema Pengangkatan Guru Madrasah Swasta, Peluang jadi ASN Semakin Terbuka
EXPO MAN 2 Ciamis 2026: Lima Hari Merayakan Bakat, Solidaritas, dan Mimpi Pelajar Priangan Timur
Berhasil Lolos ke Liga 2, Laskar Singacala PSGC Ciamis Disambut Meriah Ribuan Masyarakat
Hadiri Panen Raya, Bupati Herdiat Canangkan Ciamis sebagai Kabupaten Organik pada 2026
Hadiri Seminar di Jatim, Sekjen Kemenag Kembali Tegaskan Pentingnya Tata Kelola dan Kesejahteraan Guru Madrasah
Serial Kanjeng Sunan - Bagian 10: Api di Cimaung, Ketika Doa Dibakar Amarah
Inilah Perbandingan Gaji Guru di ASEAN, Indonesia jadi yang Terendah
PGMM Usulkan Skema untuk Pengangkatan PPPK Guru Madrasah Swasta, 2 Kategori Ini Harus jadi Prioritas
Jalan ke Sekolah Tergenang Banjir hingga Jembatan Gantung Lapuk, Pelajar Ini Ngadu ke Presiden