Sabtu, 18 Juli 2026

Nadran di Situs Manguntapa, Jejak Syukur yang Tak Pernah Usang

Photo Author
Bang Sufi, Portaloka
- Minggu, 15 Februari 2026 | 18:20 WIB
Tradisi Nadran di Situs Ki Buyut Manguntapa Baregbeg, Ciamis jelang Ramadhan (Portaloka.id/Bang Sufi)
Tradisi Nadran di Situs Ki Buyut Manguntapa Baregbeg, Ciamis jelang Ramadhan (Portaloka.id/Bang Sufi)

CIAMIS, PORTALOKA.ID - "Adanya kita hari ini karena adanya perjuangan para leluhur kita di masa lalu. Ki Buyut Manguntapa telah meletakkan dasar Islam yang kita warisi hari ini. Maka Nadran bukan sekadar ritual, tapi ini merupakan aktualisasi dari rasa hormat kepada leluhur," ucap Kepala Dinas Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Ciamis, Dr Dian Budiyana, mengawali sambutan.

Suasana pagi ini Ahad, 15 Februari 2026, perbukitan Selamanik Baregbeg, Ciamis terasa berbeda dari biasanya. Jalan setapak menuju Situs Buyut Manguntapa dipenuhi langkah kaki warga yang datang berombongan.

Mereka mengenakan pakaian adat Sunda dan busana muslim sebagian membawa bunga, dan air.

Ratusan warga dari berbagai penjuru Jawa Barat berkumpul untuk menjalankan tradisi Nadran, sebuah ritual yang bukan sekadar ziarah, tetapi juga ungkapan syukur kepada Sang Pencipta dan penghormatan kepada leluhur.

Baca Juga: Ngembang di Gunung Jaha: Doa-Doa yang Bangkit dari Sunyi Galuh

Di antara pepohonan tua yang menaungi kawasan situs, doa-doa dilantunkan dengan khusyuk. Aroma bunga bercampur tanah basah menciptakan suasana hening yang sakral.

Para sesepuh Baregbeg memimpin upacara adat, sementara warga mengikuti dengan penuh takzim.

Tradisi ini telah diwariskan turun-temurun, menjadi bagian penting dari identitas budaya masyarakat di wilayah Kabupaten Ciamis.

Nadran di Situs Ki Buyut Manguntapa bukan sekadar ritual simbolik. Warga percaya, melalui ziarah dan doa bersama, mereka menjaga hubungan batin dengan para karuhun, leluhur yang dahulu membuka dan menjaga tanah Baregbeg.

Baca Juga: Serial Kanjeng Sunan - Bagian 11: Fatwa dari Abu dan Asap

Dalam pandangan lokal, menghormati leluhur berarti merawat keseimbangan hidup, antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.

Sejak pagi, warga datang tanpa undangan resmi. Ada yang berjalan kaki sendiri, ada pula yang datang bersama keluarga. Mereka berharap Nadran tahun ini membawa keberkahan.

Setelah doa di Makom Ki Buyut Manguntapa selesai, acara dilanjutkan dengan sambutan-sambutan. Kemudian disambung dengan penyerahan SK juru pelihara.

Selanjutnya nasi liwet tujuh warna dibagikan dan dimakan bersama. Kebersamaan ini menjadi inti dari nadran, bukan hanya ritual spiritual, tetapi juga perayaan solidaritas sosial.

Halaman:

Editor: Arman Odie

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X