Sabtu, 18 Juli 2026

Mengenal Raden Adipati Sutadinata, Sosok Bupati Galuh yang Terlupakan

Photo Author
Bang Sufi, Portaloka
- Minggu, 15 Februari 2026 | 08:02 WIB
Makam Raden Adipati Sutadinata di Gunung Ardilaya Ciamis (YouTube Bappeda Ciamis)
Makam Raden Adipati Sutadinata di Gunung Ardilaya Ciamis (YouTube Bappeda Ciamis)

Oleh Bang Sufi


PORTALOKA.ID - Mungkin satu-satunya Bupati Galuh yang sepi dan kadang terlewatkan saat Hari Jadi Kabupaten Ciamis adalah Raden Adipati Sutadinata.

Orang Cisadap mengenalnya dengan nama Eyang Ardilaya karena ia menyebarkan Islam dari puncak ketinggian Gunung Ardilaya dan akhirnya hayatnya di makam di Gunung Ardilaya.

Raden Adipati Sutadinata hidup pada akhir abad ke-17 dan awal abad ke-18. Ia diangkat menjadi Bupati Galuh pada tahun 1693 dan memerintah hingga 1706, menggantikan ayahnya.

Ia dikenal sebagai Bupati Galuh pertama yang diakui dan diangkat dalam sistem pemerintahan VOC, sebuah masa yang mengubah tatanan politik Galuh.

Baca Juga: Ngembang di Gunung Jaha: Doa-Doa yang Bangkit dari Sunyi Galuh

Pada masa pemerintahannya, Galuh resmi masuk dalam pengaruh VOC melalui perjanjian tahun 1705, dan sistem ekonomi kolonial mulai diberlakukan.

Adipati Sutadinata memimpin di tengah-tengah cengkeraman penjajah VOC Belanda. Dari timur ada Mataram yang sedang ekspansi masuk Galuh untuk menyerang Batavia dan dari utara ada Cirebon.

Di luar urusan politik, Adipati Sutadinata memiliki hubungan erat dengan wilayah Desa Cisadap, khususnya kawasan Gunung Ardilaya.

Tempat ini bukan sekadar lokasi peristirahatan terakhirnya, tetapi juga menjadi saksi perjalanan spiritual dan budaya.

Baca Juga: Kaweruh Leluhur Galuh: Situs Gunung Galuh di Sindangrasa Kabupaten Ciamis

Di Gunung Ardilaya selain makam Adipati Sutadinata juga ada makam penasehat spiritualnya, seorang ulama sakti bernama Kyai Balung Tunggal.

Makamnya berdampingan, konon menurut cerita lokal, Kyai Balung Tunggal adalah guru dan pembimbing rohani keluarga Adulipati. Dia juga tokoh yang sangat setia mendampingi Sutadinata sepanjang hidupnya.

Gunung Ardilaya sejak itu menjadi tempat sakral, tempat masyarakat mengenang pemimpin lama mereka. Bahkan kutukan angin puting beliung bisa mendadak datang saat ada orang yang melanggar pantrangan Eyang Ardilaya.

Halaman:

Editor: Arman Odie

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X