Arya tersenyum miring.
“Jangan bermain kata. Sejak kau datang, wibawaku di kampung ini runtuh.”
Kanjeng Sunan menatapnya lama, bukan dengan marah, tapi dengan iba.
“Wibawa yang runtuh karena ilmu, berarti ia berdiri di atas ketakutan, bukan penghormatan.”
Baca Juga: Hanjuang Bodas: Pohon Sakral Kerajaan Pajajaran Moksa Bersama Prabu Siliwangi
Kalimat itu seperti batu jatuh ke telaga. Heningnya terasa berat.
Arya melangkah maju, emosinya naik.
“Kalau kau memang orang suci, buktikan! Hentikan kemarau yang membuat sawahku kering!”
Beberapa warga saling pandang. Permintaan itu bukan sekadar tantangan, tapi jebakan.
Kanjeng Sunan tersenyum tipis.
“Hujan bukan di tanganku. Tapi doa adalah tugas kita.”
Beliau berdiri, mengangkat tangan. Warga perlahan mengikuti. Bahkan Dodo merasakan bulu kuduknya merinding.
Baca Juga: Kaweruh Leluhur Galuh: Situs Gunung Galuh di Sindangrasa Kabupaten Ciamis
Arya Damar tetap berdiri dengan tangan terlipat, wajahnya keras—tapi hatinya mulai goyah oleh sesuatu yang tak ia mengerti.
Langit Cimaung yang sejak sore kelabu, tiba-tiba digulung angin dingin. Petir jauh menggeram. Setitik air jatuh di tanah kering… lalu sedikit demi menjadi hujan deras.
Warga menangis haru. Dodo sujud di tanah basah. Tapi Arya Damar mundur selangkah, wajahnya pucat, bukan karena hujan, melainkan karena untuk pertama kalinya, ia merasa kecil.
Baca Juga: Ibukota Galuh di Kawali, Bukan di Baregbeg, Ini Penjelasan Dewan Kebudayaan Kabupaten Ciamis
Kanjeng Sunan hanya berbisik pelan, hampir tak terdengar:
“Yang besar hanya Dia. Kita semua sedang belajar.”