lokacarita

Serial Kanjeng Sunan: Bayang-bayang di Kampung Cimaung (Part 1)

Sabtu, 31 Januari 2026 | 08:31 WIB
Ilustrasi - Kisah Kanjeng Sunan, sosok penyebar Islam di Kampung Cimaung (Portaloka.id - ChatGPT)

Arya tersenyum miring.
“Jangan bermain kata. Sejak kau datang, wibawaku di kampung ini runtuh.”

Kanjeng Sunan menatapnya lama, bukan dengan marah, tapi dengan iba.
“Wibawa yang runtuh karena ilmu, berarti ia berdiri di atas ketakutan, bukan penghormatan.”

Baca Juga: Hanjuang Bodas: Pohon Sakral Kerajaan Pajajaran Moksa Bersama Prabu Siliwangi

Kalimat itu seperti batu jatuh ke telaga. Heningnya terasa berat.

Arya melangkah maju, emosinya naik.
“Kalau kau memang orang suci, buktikan! Hentikan kemarau yang membuat sawahku kering!”

Beberapa warga saling pandang. Permintaan itu bukan sekadar tantangan, tapi jebakan.

Kanjeng Sunan tersenyum tipis.
“Hujan bukan di tanganku. Tapi doa adalah tugas kita.”

Beliau berdiri, mengangkat tangan. Warga perlahan mengikuti. Bahkan Dodo merasakan bulu kuduknya merinding.

Baca Juga: Kaweruh Leluhur Galuh: Situs Gunung Galuh di Sindangrasa Kabupaten Ciamis

Arya Damar tetap berdiri dengan tangan terlipat, wajahnya keras—tapi hatinya mulai goyah oleh sesuatu yang tak ia mengerti.

Langit Cimaung yang sejak sore kelabu, tiba-tiba digulung angin dingin. Petir jauh menggeram. Setitik air jatuh di tanah kering… lalu sedikit demi menjadi hujan deras.

Warga menangis haru. Dodo sujud di tanah basah. Tapi Arya Damar mundur selangkah, wajahnya pucat, bukan karena hujan, melainkan karena untuk pertama kalinya, ia merasa kecil.

Baca Juga: Ibukota Galuh di Kawali, Bukan di Baregbeg, Ini Penjelasan Dewan Kebudayaan Kabupaten Ciamis

Kanjeng Sunan hanya berbisik pelan, hampir tak terdengar:

“Yang besar hanya Dia. Kita semua sedang belajar.”

Halaman:

Tags

Terkini

Misalin: Kala Angin Syaban Menyapa dan Jiwa Berubah

Sabtu, 31 Januari 2026 | 15:12 WIB

Nyepuh: Jejak Penyucian Diri dari Tanah Ciomas

Jumat, 30 Januari 2026 | 08:55 WIB