Jumat, 25 September 2026

Festival Literasi Ciamis 2026, Saat Membaca Tak Lagi Cukup untuk Memahami Zaman

Photo Author
Bang Sufi, Portaloka
- Selasa, 22 September 2026 | 17:25 WIB
Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Ciamis menggelar Festival Literasi (Portaloka.id/Bang Sufi)
Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Ciamis menggelar Festival Literasi (Portaloka.id/Bang Sufi)

CIAMIS, PORTALOKA.ID - Sebuah buku yang terbuka belum tentu membuat seseorang menjadi lebih berpengetahuan. Begitu pula ribuan informasi yang muncul di layar ponsel belum tentu membuat seseorang lebih memahami dunia.

Di antara derasnya kabar, opini, video, dan berbagai informasi yang datang setiap hari, manusia justru menghadapi tantangan baru: kemampuan membedakan mana yang perlu dipercaya, mana yang harus diperiksa kembali, dan mana yang sebaiknya tidak disebarkan.

Persoalan itulah yang membuat literasi menjadi semakin relevan.

Di Kabupaten Ciamis, semangat tersebut kembali dihidupkan melalui Festival Literasi Ciamis 2026. Pemerintah Kabupaten Ciamis melalui Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) membuka festival tersebut di halaman Kantor Dispusip Ciamis, Selasa, 22 September 2026.

Baca Juga: Ciamis Terima 37 Unit Alat dan Mesin Pertanian Aspirasi Rina Sa'adah, Bupati Herdiat: Bantuan Sangat Bermanfaat dalam Hadapi Kemarau

Festival yang berlangsung hingga 24 September itu mengusung tema “Bersinergi dalam Literasi Mewujudkan Ciamis Maju dan Berkelanjutan.”

Namun, festival ini tidak hanya berbicara tentang buku.

Di dalamnya terdapat perjumpaan antara pelajar, akademisi, pegiat literasi, pengelola perpustakaan desa, komunitas, organisasi masyarakat, hingga warga umum. Mereka datang dari ruang yang berbeda, tetapi bertemu pada satu kebutuhan yang sama: belajar.

Bagi Bupati Ciamis Herdiat Sunarya, kebiasaan membaca menjadi salah satu fondasi untuk membangun manusia yang mampu mengikuti perubahan zaman.

Baca Juga: Buka Festival Literasi Ciamis 2026, Bupati Herdiat Tekankan Pentingnya Budaya Membaca

Kemajuan daerah, menurutnya, tidak dapat hanya diukur dari pembangunan fisik. Ada manusia di balik setiap pembangunan yang harus memiliki pengetahuan, kemauan belajar, serta kemampuan beradaptasi dengan perkembangan teknologi.

“Tidak mungkin maju kalau orang-orangnya pemalas, tidak mau membaca, tidak mau mengikuti perkembangan zaman. Pasti akan jauh tertinggal,” ujar Herdiat.

Pernyataan itu juga diarahkan kepada jajaran aparatur pemerintah daerah. Dalam situasi keterbatasan anggaran dan efisiensi, Herdiat meminta organisasi perangkat daerah tidak kehilangan kreativitas.

Keterbatasan, dalam konteks itu, justru harus melahirkan inovasi. Aparatur dituntut mencari cara baru agar pelayanan publik tetap berkembang dan prestasi daerah terus dapat diraih.

Halaman:

Editor: Arman Odie

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X