Kondisi ini paling banyak dirasakan oleh guru madrasah swasta yang selama ini ikut memperluas akses pendidikan nasional, tetapi belum memperoleh dukungan yang sepadan.
Padahal, jika dilihat dari perspektif pembangunan, anggaran untuk guru tidak seharusnya dipandang sebagai belanja konsumtif.
Anggaran tersebut merupakan investasi jangka panjang yang hasilnya akan dirasakan lintas generasi. Setiap rupiah yang dialokasikan untuk meningkatkan kualitas dan kesejahteraan guru sesungguhnya merupakan investasi untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia.
Pembangunan infrastruktur memang penting. Jalan, jembatan, sekolah, rumah sakit, dan berbagai fasilitas publik menjadi fondasi pertumbuhan ekonomi. Namun, seluruh infrastruktur tersebut pada akhirnya akan dikelola oleh manusia. Apabila kualitas manusianya tidak dipersiapkan dengan baik melalui pendidikan yang bermutu, maka manfaat pembangunan fisik tidak akan mencapai hasil yang optimal.
Karena itu, membangun pendidikan tidak cukup hanya dengan memperbaiki gedung sekolah atau menyediakan berbagai sarana pembelajaran.
Pembangunan pendidikan harus dimulai dengan memberikan penghargaan yang layak kepada mereka yang berada di garis terdepan, yakni para guru.
Guru yang sejahtera akan memiliki ruang lebih luas untuk meningkatkan kompetensi, berinovasi dalam pembelajaran, dan memberikan perhatian yang optimal kepada peserta didik. Sebaliknya, apabila guru terus dibebani persoalan ekonomi, maka energi yang seharusnya digunakan untuk meningkatkan kualitas pendidikan akan banyak tersita untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Tentu, pemerintah menghadapi tantangan dalam mengelola anggaran negara yang harus dibagi untuk berbagai sektor. Namun, setiap kebijakan anggaran pada akhirnya merupakan pilihan prioritas.
Oleh karena itu, pembahasan mengenai kesejahteraan guru tidak seharusnya berhenti pada pertanyaan apakah negara mampu, melainkan apakah negara menempatkan pendidikan dan guru sebagai prioritas utama pembangunan.
Indonesia tengah menatap cita-cita menjadi negara maju dengan bonus demografi dan visi Indonesia Emas 2045. Target tersebut tidak akan tercapai hanya melalui pertumbuhan ekonomi atau pembangunan fisik semata.
Baca Juga: Guru Digugu lan Ditiru: Reaktualisasi Filosofi Pendidikan di Era Kecerdasan Buatan
Indonesia membutuhkan sumber daya manusia yang unggul, berkarakter, adaptif, dan kompetitif. Semua itu berawal dari pendidikan yang berkualitas, dan pendidikan yang berkualitas tidak mungkin terwujud tanpa guru yang profesional dan sejahtera.
Sudah saatnya cara pandang terhadap guru mengalami perubahan. Guru bukan sekadar komponen belanja dalam dokumen APBN. Guru adalah investasi bangsa. Mengalokasikan anggaran untuk meningkatkan kesejahteraan guru bukanlah pemborosan, melainkan penanaman modal paling berharga bagi masa depan Indonesia.