pendidikan

Cerita Suratno, Guru Madrasah asal Pacitan, Rela Panen Porang Lebih Awal Demi Ikut Aksi SIAGA 2026 di Jakarta

Selasa, 19 Mei 2026 | 14:04 WIB
Suratno, guru MIM Jeruk Pacitan rela panen porang demi ongkos ke Jakarta (Ist)

Dengan segala keterbatasan yang dimiliki, Ia bertekat untuk memberikan pendidikan terbaik untuk putra-putrinya.

Baca Juga: PGMM Pacitan Sampaikan 3 Tuntutan Guru Madrasah Swasta kepada DPRD Pacitan, di Antaranya soal TPG Inpassing yang Sering Terlambat

Panen Porang Lebih Awal Demi Ikut Aksi SIAGA

Seperti ribuan guru madrasah lainnya, Suratno menaruh harapan besar agar pemerintah memperhatikan kesejahteraannya.

Demi mewujudkannya, guru MIM Jeruk ini bertekad untuk bergabung dengan puluhan ribu guru madrasah lainnya pada Silaturahmi Akbar Guru Indonesia (SIAGA) yang akan digelar pada 20 Mei 2026 di depan Gedung DPR RI Jakarta.

Perjalanan dari kampung halaman menuju Jakarta bukan perjalanan yang mudah.

Baca Juga: Legislator Desak Pemerintah Berikan Afirmatif bagi Guru Honorer dalam Seleksi PPPK: Jangan Korbankan Pengabdian Bertahun-tahun

Dari kampung, Ia berangkat menuju kota naik sepeda motor selama 3 jam. Setelah itu, perjalanan dilanjutkan selama 15 jam menuju Jakarta.

Suratno bersama Pimpinan Daerah Perkumpulan Guru Madrasah Mandiri (PGMM) Pacitan berangkat ke Jakarta untuk bergabung dengan Pimpinan Pusat PGMM dan puluhan ribu guru madrasah dari berbagai daerah di Indonesia.

Untuk bekal di perjalanan dan selama di Jakarta, Ia pun harus merelakan tanaman porangnya dipanen lebih awal.

Harapan Suratno kepada Pemerintah

Dengan aksi ini, Suratno menaruh harapan besar kepada pemerintah agar tidak lagi ada pembeda antara guru negeri dan swasta.

Baca Juga: Detik-detik Penangkapan Oknum Kiai di Ponorogo, Diduga Cabuli Belasan Santri Laki-laki, Polisi Ungkap Modusnya

"Harapan saya kesejahteraan guru madrasah swasta, jangan ada pembeda antara negeri dan swasta. Pemerintah juga harus adil terhadap guru swasta, karena kami juga sama-sama turut mencerdaskan kehidupan bangsa," tuturnya.

"Meskipun di pelosok desa, sebagai warga negara yang baik kami ikut bayar pajak, mengikuti pesta demokrasi, dan membangun desa sendiri dengan kearifan lokal yang ada," pungkasnya.***

Halaman:

Tags

Terkini