Kamis, 4 Juni 2026

Dari Kecerdasan Budaya Hingga Tantangan AI: Seminar Internasional FIPP Bedah Masa Depan Pendidikan dan Psikologi

Photo Author
Arman Odie, Portaloka
- Jumat, 20 Februari 2026 | 04:16 WIB
FIPP International Forum 2026 UNNES membedah berbagai topik menarik.  (Ist)
FIPP International Forum 2026 UNNES membedah berbagai topik menarik. (Ist)

SEMARANG, PORTALOKA.ID – Bagaimana seorang mahasiswa asing menaklukkan culture shock di jantung kebudayaan Jawa? Bagaimana pula denyut nadi pendidikan tetap berdetak di tengah badai krisis politik? Dan benarkah kehadiran Kecerdasan Buatan (AI) justru kerap menjebak mahasiswa dalam "ilusi pemahaman"?

Isu-isu krusial bin provokatif ini menjadi episentrum diskusi dalam seminar internasional yang menjadi rangkaian FIPP International Forum 2026.

Perhelatan ini berlangsung khidmat di Aula Dekanat Fakultas Ilmu Pendidikan dan Psikologi (FIPP) Universitas Negeri Semarang (UNNES), Kamis, 19 Februari 2026.

Meski digelar di tengah kebijakan Work From Anywhere (WFA) hari pertama Ramadan 1447 H, gairah intelektual para peserta tak meredup.

Baca Juga: FIPP UNNES Gandeng Pakar Universiti Malaya, Jajaki Kolaborasi Riset hingga Joint Supervision

Dekan FIPP UNNES, Prof. Dr. Edy Purwanto, M.Si., menegaskan bahwa forum lintas negara ini adalah pengejawantahan visi UNNES sebagai pelopor kecemerlangan pendidikan yang bereputasi dunia.

"Kolaborasi internasional melalui student exchange dan temu akademik lintas negara adalah ikhtiar kita untuk terus meluaskan cakrawala mahasiswa," tuturnya.

Resiliensi dan Agensi Guru di Tengah Krisis

Seminar ini mempertemukan perspektif dari Kirgistan, Myanmar, Gambia, hingga Indonesia. Salah satu poin penting yang dibedah adalah bagaimana aktor pendidikan bertahan dalam keterbatasan.

Baca Juga: CATAT! Ini Jadwal Belajar Selama Ramadhan 1447 H hingga Idul Fitri

Jenyes Intan Sururoh, mahasiswi Bimbingan Konseling FIPP UNNES, memotret ketangguhan para guru BK di sekolah. Dalam risetnya, ia menekankan bahwa inovasi layanan BK seringkali lahir bukan dari instruksi formal, melainkan dari "agensi profesional" para guru yang bergerak lincah menembus keterbatasan fasilitas demi merespons kebutuhan emosional siswa yang kian kompleks.

Senada dengan isu resiliensi, mahasiswi S2 Pengembangan Kurikulum asal Myanmar, Hsu Nandar Myint, membagikan kisah haru sekaligus heroik tentang transformasi kurikulum di negaranya pasca-krisis politik 2021.

Penggunaan modul cetak dan radio pendidikan menjadi bukti bahwa ketika teknologi tinggi lumpuh, kreativitas komunitas tetap mampu menjaga nyala api pembelajaran.

Baca Juga: Rincian Gaji Guru Honorer Madrasah dari MI hingga MA, Paling Tinggi pun Masih di Bawah UMR

Halaman:

Editor: Arman Odie

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X