Para prajurit yang bertempur bahkan tak sepenuhnya tahu mengapa mereka harus saling menikam. Yang mereka pahami hanya satu: harga diri telah diinjak, dan balas dendam adalah bahasa paling mudah dimengerti.
Baca Juga: Serial Kanjeng Sunan - Bagian 11: Fatwa dari Abu dan Asap
Menjelang senja, tanah Cimaung berubah warna. Bukan lagi hijau atau cokelat, melainkan merah gelap. Angin membawa bau besi dan keringat.
Di sela jerit dan rintih, Kanjeng Sunan turun dari batu, melangkah ke medan laga, menantang pedang dengan dada terbuka.
“Jika darah yang kalian cari, ambillah dariku,” ucapnya.
Sejenak, waktu seolah berhenti. Beberapa prajurit menunduk. Sebagian lain ragu. Peperangan yang tadi menggelegar kini menggantung dalam keheningan yang canggung.
Baca Juga: Ngembang di Gunung Jaha: Doa-Doa yang Bangkit dari Sunyi Galuh
Di kejauhan, serpihan bedug dari sisa reruntuhan masjid tertiup angin, berbunyi lirih seperti doa yang tersisa.
Tak ada yang kalah dan menang, pada akhirnya kebijaksanaan menang atas bara dendam. Hari ini Cimaung akan menjadi catatan kelam dalam lembar sejarah tanah Sunda?** (Bersambung)