Minggu, 19 Juli 2026

Serial Kanjeng Sunan - Bagian 12: Perang Sabil Agama dan Tradisi

Photo Author
Bang Sufi, Portaloka
- Sabtu, 14 Februari 2026 | 14:50 WIB
Ilustrasi - Pasukan Macan Ali Cirebon berperang dengan pasukan Arya Damar (Portaloka.id)
Ilustrasi - Pasukan Macan Ali Cirebon berperang dengan pasukan Arya Damar (Portaloka.id)

Para prajurit yang bertempur bahkan tak sepenuhnya tahu mengapa mereka harus saling menikam. Yang mereka pahami hanya satu: harga diri telah diinjak, dan balas dendam adalah bahasa paling mudah dimengerti.

Baca Juga: Serial Kanjeng Sunan - Bagian 11: Fatwa dari Abu dan Asap

Menjelang senja, tanah Cimaung berubah warna. Bukan lagi hijau atau cokelat, melainkan merah gelap. Angin membawa bau besi dan keringat.

Di sela jerit dan rintih, Kanjeng Sunan turun dari batu, melangkah ke medan laga, menantang pedang dengan dada terbuka.

“Jika darah yang kalian cari, ambillah dariku,” ucapnya.

Sejenak, waktu seolah berhenti. Beberapa prajurit menunduk. Sebagian lain ragu. Peperangan yang tadi menggelegar kini menggantung dalam keheningan yang canggung.

Baca Juga: Ngembang di Gunung Jaha: Doa-Doa yang Bangkit dari Sunyi Galuh

Di kejauhan, serpihan bedug dari sisa reruntuhan masjid tertiup angin, berbunyi lirih seperti doa yang tersisa.

Tak ada yang kalah dan menang, pada akhirnya kebijaksanaan menang atas bara dendam. Hari ini Cimaung akan menjadi catatan kelam dalam lembar sejarah tanah Sunda?** (Bersambung)

Halaman:

Editor: Arman Odie

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Misalin: Kala Angin Syaban Menyapa dan Jiwa Berubah

Sabtu, 31 Januari 2026 | 15:12 WIB

Nyepuh: Jejak Penyucian Diri dari Tanah Ciomas

Jumat, 30 Januari 2026 | 08:55 WIB
X