Kamis, 4 Juni 2026

Misalin: Kala Angin Syaban Menyapa dan Jiwa Berubah

Photo Author
Bang Sufi, Portaloka
- Sabtu, 31 Januari 2026 | 15:12 WIB
Upacara adat Misalin dilakukan masyarakat Ciamis menjelang datangnya Ramadhan (Instagram @bppd_ciamis)
Upacara adat Misalin dilakukan masyarakat Ciamis menjelang datangnya Ramadhan (Instagram @bppd_ciamis)

Disclaimer! Tulisan ini bersumber dari perjalanan selama mengikuti upacara adat Misalin, bisa saja berbeda dalam memaknainya dengan orang lain. Tapi apa yang saya tulis adalah substansi di balik adat Misalin.

 


PORTALOKA.ID - Perjalanan menembus dimensi masa lalu menghantarkan saya di lokasi situs Salawe. Tak terlalu jauh dari Kota Ciamis. Hari itu saya sampai di lokasi saat senja merayap di balik bukit-bukit Ciamis.

Cuaca senja seperti mau hujan, ada kabut tipis menyelimuti hamparan padi di Bojongsalawe. Tepat di depan pintu gerbang Salawe, suara lembut Sungai Citanduy gemericik.

Saya menyaksikan langkah-langkah kecil penduduk Desa Cimaragas sedang mengikuti prosesi ritual Misalin. Aroma tradisi masa lampau seperti terlahir kembali melalui upacara adat Misalin.

Tentu bagi yang mempercayai, tradisi Misalin bukan sekadar ritual, tapi ini adalah nafas kehidupan warga sekitar yang merangkul jiwa, ruang dan waktu

Ia bukan sekadar ritual; ia adalah denyut kehidupan yang merangkul kearifan sejarah, waktu dan jiwa.

Baca Juga: Nadran di Situs Ki Buyut Manguntapa: Jejak Budaya dan Syiar Islam di Baregbeg

Misalin berasal dari dua kata,"mi dan salin" yang dalam bahasa Sunda bermakna melakukan pergantian. Di desa ini, pergantian itu bukan tentang barang yang berubah, tetapi tentang hati dan perilaku yang hendak dilahirkan kembali, dari kotor ke suci, dari biasa menjadi bijak, dari purba menuju berkat.

Nama itu enggan kehilangan makna kedalamannya: sebuah perjalanan batin menuju kesejahteraan lahir dan batin menjelang bulan suci Ramadhan.

Jelang Pagi

Usai Subuh saya melihat kembali prosesi berikutnya. Pagi itu langit masih abu-ungu ketika masyarakat berkumpul di Situs Bojong Galuh Salawe, sebuah tanah yang memeluk jejak leluhur Sang Hyang Cipta Permana Prabudigaluh Salawe.

Baca Juga: Serial Kanjeng Sunan: Bayang-bayang di Kampung Cimaung (Part 1)

Mereka datang sambil membawa sapu, kain, semangat, dan harapan. Dalam hening, mereka membersihkan makam dan situs sakral itu: daun-daun gugur disapu, batu-batu kecil dirapikan, dan setiap langkah menjadi doa yang melintas di udara. Keringat dan doa bercampur, seperti air yang akan menyucikan jiwa mereka.

Halaman:

Editor: Arman Odie

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Misalin: Kala Angin Syaban Menyapa dan Jiwa Berubah

Sabtu, 31 Januari 2026 | 15:12 WIB

Nyepuh: Jejak Penyucian Diri dari Tanah Ciomas

Jumat, 30 Januari 2026 | 08:55 WIB
X