Dari jejak para leluhur itulah Nyepuh berawal.
Kata Nyepuh dalam pemaknaan lokal dimengerti sebagai penyucian, membersihkan diri lahir dan batin. Namun maknanya lebih dalam dari sekadar simbol. Ia adalah pengakuan bahwa manusia tak pernah benar-benar bersih; bahwa sebelum memasuki bulan puasa, hati harus lebih dahulu dicuci dengan kesadaran, kerendahan, dan permohonan ampun.
Setiap pertengahan bulan Sya’ban, warga Ciomas berjalan bersama menuju area makam di hutan Geger Omas. Langkah mereka pelan, bukan karena jarak, melainkan karena rasa hormat.
Baca Juga: Hanjuang Bodas: Pohon Sakral Kerajaan Pajajaran Moksa Bersama Prabu Siliwangi
Di sana mereka berziarah, melantunkan doa, dan bertawassul. Doa-doa itu melayang di antara pepohonan tua, menyatu dengan desir angin, seolah alam pun turut mengamini.
Prosesi tidak berhenti pada doa. Mereka membersihkan area makam dan lingkungan sekitar. Lidi-lidi diikat dalam tradisi yang disebut nyimpayan. Ikatan lidi itu sederhana, namun sarat makna: satu lidi mudah patah, tetapi bila bersatu menjadi kuat. Begitulah masyarakat Ciomas memaknai kebersamaan kekuatan lahir dari persatuan.
Setelah kerja gotong royong, mereka duduk melingkar menikmati tumpeng. Nasi kuning yang dibagi bukan sekadar hidangan, melainkan simbol syukur, persaudaraan, dan harapan agar Ramadhan dijalani dengan hati yang terang.
Di situlah letak keindahan Nyepuh. Ia menyatukan tiga dunia sekaligus: hubungan manusia dengan Tuhan melalui doa (habluminallah), hubungan manusia dengan leluhur melalui ziarah, sebagai salah satu Sunnah Nabi dan hubungan manusia dengan sesama melalui gotong royong.
Baca Juga: Menjemput Ramadhan dari Tanah Wali: Wisata Religi Ciamis Kian Dilirik
Tradisi ini juga menjadi pengingat anak cucu bahwa agama di tanah Sunda tumbuh tidak dengan mencabut akar budaya, tetapi merangkulnya. Nyepuh menunjukkan bagaimana spiritualitas dapat hidup dalam adat, dan adat menemukan ruhnya dalam nilai-nilai keimanan.
Kini, di tengah perubahan zaman, Nyepuh tetap dijaga. Ia bukan hanya ritual tahunan, tetapi identitas. Generasi muda milenial wajib belajar bahwa menyambut Ramadhan bukan hanya menyiapkan menu sahur dan jadwal ibadah, tetapi juga menata hati, membersihkan niat, dan merawat ingatan terhadap para leluhur masa lalu.
Karena pada akhirnya, Nyepuh mengajarkan satu hal yang sederhana namun dalam: manusia boleh memasuki bulan suci hanya setelah ia berdamai dengan dirinya, dengan sesamanya, dan dengan masa lalunya.
Dan di tanah Ciomas, pelajaran itu diwariskan bukan lewat buku, melainkan lewat langkah kaki, sapuan lidi, doa yang lirih, dan kebersamaan yang hangat.
Baca Juga: Dari Gunung Galuh ke Keraton Cirebon: Sejarah yang Kembali Bicara akan Sosok Pangeran Arya Natareja
Bagi pecinta kuliner, di upacara adat Nyepuh ada hidangan menu kuno, sayur poloy, sayur jantung dan ada ikan khas sungai. Lalab dan sambalnya khas Ciomas warisan Emak Iyam.Yang penasaran bisa ikut upacara adat Nyepuh pada tanggal 4 Februari 2026.***
Artikel Terkait
4 Fakta Penemuan Mayat Pria di Gumuk Pasir Bantul, Korban Ditemukan Pencari Rumput Hingga Terungkap Kondisinya
Batal jadi Petugas Haji 2026, Chiki Fawzi: Jujur Sedih Banget
Nasi Bakar Tongkol Lezat Gurih Pedas dan Smokey, Cocok Jadi Resep Ide Jualan
KH Miftah Fauzi: Pemkot Tasikmalaya Ditunggu Bersikap Atas Masalah Pasar Cikurubuk
VIRAL! 23 Tahun Mengabdi jadi Guru Honorer, Pak Ribut Digaji Rp25 Ribu per Bulan, Ungkap Alasan Bertahan Walau Gaji Tak Cukup
Kepala Bappenas Sebut MBG Lebih Mendesak Ketimbang Lapangan Kerja
Pemkab Ciamis Tegaskan Komitmen Perkuat Pendidikan Anak Usia Dini di Gebyar Al Huda 2026
Tumis Sukiyaki Paprika dan Jamur, Ide Menu Makan Sahur Puasa Ramadhan 2026 yang Enak dan Bikinnya Praktis, Cek Resepnya di Sini
Resep Daging Sapi Lada Hitam, Ide Menu Makanan Praktis untu Sahur Puasa Ramadhan 2026, Rasanya Enak Bikinnya Sat Set, Cobain Yuk
Hore! Bansos PKH dan BPNT 2026 Tahap 1 Cair Februari, Cek Nominal di Sini Ya!