Kamis, 4 Juni 2026

Nyepuh: Jejak Penyucian Diri dari Tanah Ciomas

Photo Author
Bang Sufi, Portaloka
- Jumat, 30 Januari 2026 | 08:55 WIB
Tradisi Nyebuh masyarakat Desa Ciomas, Panjalu, Ciamis jelang Ramadhan (Visit Ciamis)
Tradisi Nyebuh masyarakat Desa Ciomas, Panjalu, Ciamis jelang Ramadhan (Visit Ciamis)

Dari jejak para leluhur itulah Nyepuh berawal.

Kata Nyepuh dalam pemaknaan lokal dimengerti sebagai penyucian, membersihkan diri lahir dan batin. Namun maknanya lebih dalam dari sekadar simbol. Ia adalah pengakuan bahwa manusia tak pernah benar-benar bersih; bahwa sebelum memasuki bulan puasa, hati harus lebih dahulu dicuci dengan kesadaran, kerendahan, dan permohonan ampun.

Setiap pertengahan bulan Sya’ban, warga Ciomas berjalan bersama menuju area makam di hutan Geger Omas. Langkah mereka pelan, bukan karena jarak, melainkan karena rasa hormat.

Baca Juga: Hanjuang Bodas: Pohon Sakral Kerajaan Pajajaran Moksa Bersama Prabu Siliwangi

Di sana mereka berziarah, melantunkan doa, dan bertawassul. Doa-doa itu melayang di antara pepohonan tua, menyatu dengan desir angin, seolah alam pun turut mengamini.

Prosesi tidak berhenti pada doa. Mereka membersihkan area makam dan lingkungan sekitar. Lidi-lidi diikat dalam tradisi yang disebut nyimpayan. Ikatan lidi itu sederhana, namun sarat makna: satu lidi mudah patah, tetapi bila bersatu menjadi kuat. Begitulah masyarakat Ciomas memaknai kebersamaan kekuatan lahir dari persatuan.

Setelah kerja gotong royong, mereka duduk melingkar menikmati tumpeng. Nasi kuning yang dibagi bukan sekadar hidangan, melainkan simbol syukur, persaudaraan, dan harapan agar Ramadhan dijalani dengan hati yang terang.

Di situlah letak keindahan Nyepuh. Ia menyatukan tiga dunia sekaligus: hubungan manusia dengan Tuhan melalui doa (habluminallah), hubungan manusia dengan leluhur melalui ziarah, sebagai salah satu Sunnah Nabi dan hubungan manusia dengan sesama melalui gotong royong.

Baca Juga: Menjemput Ramadhan dari Tanah Wali: Wisata Religi Ciamis Kian Dilirik

Tradisi ini juga menjadi pengingat anak cucu bahwa agama di tanah Sunda tumbuh tidak dengan mencabut akar budaya, tetapi merangkulnya. Nyepuh menunjukkan bagaimana spiritualitas dapat hidup dalam adat, dan adat menemukan ruhnya dalam nilai-nilai keimanan.

Kini, di tengah perubahan zaman, Nyepuh tetap dijaga. Ia bukan hanya ritual tahunan, tetapi identitas. Generasi muda milenial wajib belajar bahwa menyambut Ramadhan bukan hanya menyiapkan menu sahur dan jadwal ibadah, tetapi juga menata hati, membersihkan niat, dan merawat ingatan terhadap para leluhur masa lalu.

Karena pada akhirnya, Nyepuh mengajarkan satu hal yang sederhana namun dalam: manusia boleh memasuki bulan suci hanya setelah ia berdamai dengan dirinya, dengan sesamanya, dan dengan masa lalunya.

Dan di tanah Ciomas, pelajaran itu diwariskan bukan lewat buku, melainkan lewat langkah kaki, sapuan lidi, doa yang lirih, dan kebersamaan yang hangat.

Baca Juga: Dari Gunung Galuh ke Keraton Cirebon: Sejarah yang Kembali Bicara akan Sosok Pangeran Arya Natareja

Bagi pecinta kuliner, di upacara adat Nyepuh ada hidangan menu kuno, sayur poloy, sayur jantung dan ada ikan khas sungai. Lalab dan sambalnya khas Ciomas warisan Emak Iyam.Yang penasaran bisa ikut upacara adat Nyepuh pada tanggal 4 Februari 2026.***

Halaman:

Editor: Arman Odie

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Misalin: Kala Angin Syaban Menyapa dan Jiwa Berubah

Sabtu, 31 Januari 2026 | 15:12 WIB

Nyepuh: Jejak Penyucian Diri dari Tanah Ciomas

Jumat, 30 Januari 2026 | 08:55 WIB
X