Minggu, 12 Juli 2026

Update Dugaan Skandal Pemalsuan Dokumen di Kasus Ekspor SDA: Menkeu Purbaya Kini Kantongi 10 Perusahaan Sawit

Photo Author
Arman Odie, Portaloka
- Minggu, 24 Mei 2026 | 07:52 WIB
Menyoroti penuturan Menkeu Purbaya terkait kasus ekspor sawit dan batu bara terkait dugaan pemalsuan dokumen hingga kecurangan harga. (Instagram.com/@menkeuri - DLHPKP)
Menyoroti penuturan Menkeu Purbaya terkait kasus ekspor sawit dan batu bara terkait dugaan pemalsuan dokumen hingga kecurangan harga. (Instagram.com/@menkeuri - DLHPKP)

"Itu meng-employ AI segala macam di situ untuk melihat apakah betul di industri misalnya sawit ada under-invoicing," imbuh Purbaya.

Baca Juga: WNI Relawan GSF Bongkar Perilaku Keji Militer Israel, dari Menahan Badan Pakai Kepala hingga Diikat Sangat Kencang

Kantongi 10 Perusahaan CPO

Purbaya menjelaskan, tim tersebut telah memeriksa secara acak pengapalan CPO dari 10 perusahaan eksportir Indonesia.

"Jadi saya pilih, saya suruh pilih 10 perusahaan eksportir, perusahaan CPO (Crude Palm Oil)," tutur Purbaya.

"Lalu saya suruh cari pengapalan CPO-nya random, ship by ship, masing-masing perusahaan minimal 3, dipilih random juga pengapalannya," sambungnya.

Dari penelusuran itu, ditemukan perbedaan harga antara ekspor dari Indonesia ke Singapura dengan harga barang yang sama saat masuk ke Amerika Serikat (AS).

Baca Juga: 3 Kuliner Khas Jawa Barat yang Bisa Dibuat Pakai Daging Kurban, Rekomendasi untuk Sajian Idul Adha

"Jadi kapalnya sih langsung dari Indonesia ke Amerika misalnya, tapi kertasnya dimainkan di Singapura," sebut Purbaya.

"Dulu kita enggak bisa deteksi, karena kita enggak tahu di Amerika seperti apa pricingnya," tambahnya.

Rerata 2 Kali Lipat Dibanding Ekspor RI-Singapura

Dalam kasus ini, Purbaya menyebut rata-rata harga barang di negara tujuan mencapai dua kali lipat dibanding harga ekspor dari Indonesia ke Singapura.

"Dari kasus setiap perusahaan itu, rata-rata harga di Amerika atau di tujuan, dibanding harga yang kita jual dari sini ke Singapura, itu 2 kalinya," ungkapnya.

"Dari situ saya sudah rugikan setengah, setengah ya, setengah dari potensi pendapatan saya. Jadi kementerian keuangan saya rugi," jelas Purbaya.

Baca Juga: Dari Bawean untuk Indonesia: Harapan Kecil yang Menggema dalam Perjuangan SIAGA 2026

Halaman:

Editor: Arman Odie

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X