Minggu, 19 Juli 2026

Setelah Banjir Bandang Melanda Sumatera, Ferry Irwandi Bongkar Fakta di Balik Gelondongan Kayu yang Terjang Rumah Warga

Photo Author
Arman Odie, Portaloka
- Selasa, 23 Desember 2025 | 22:10 WIB
Menyoroti pernyataan influencer, Ferry Irwandi terkait gelondongan kayu yang terbawa arus banjir bandang di Sumatera.  (Instagram @irwandiferry)
Menyoroti pernyataan influencer, Ferry Irwandi terkait gelondongan kayu yang terbawa arus banjir bandang di Sumatera. (Instagram @irwandiferry)

PORTALOKA.ID - Bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera pada akhir November 2025 lalu, kini kembali menyisakan persoalan panjang dalam fase pemulihan pascabencana.

Hal tersebut, karena terdapat banyak akses jembatan rusak, akses jalan terputus, hingga distribusi bantuan yang tersendat menjadi gambaran nyata di lapangan.

Di tengah kondisi itu, persoalan yang kerap luput dari perhatian justru datang dari material sisa banjir yang menumpuk di sepanjang aliran sungai.

Gelondongan kayu berukuran besar yang terbawa arus deras banjir kini justru berubah menjadi ancaman lanjutan di Tanah Sumatera.

Baca Juga: BRI Gelar Kegiatan Satukan Langkah untuk Sumatra, Berikan Komitmen Bantuan Rp50 Miliar Percepat Pemulihan Bencana

Bukan hanya menyumbat aliran air, kayu-kayu tersebut juga meningkatkan daya rusak banjir, terutama ketika terjebak di jembatan atau tikungan sungai.

Situasi ini memperbesar risiko banjir susulan dan memperlambat pemulihan wilayah terdampak.

Terkini, influencer sekaligus aktivis kemanusiaan, Ferry Irwandi mengangkat persoalan tersebut dari sudut pandang ilmiah.

Melalui akun Instagram pribadinya @irwandiferry pada Selasa, 23 Desember 2025, Ferry mengungkapkan analisis berbasis ilmu fluida dan hidrodinamika.

Baca Juga: Pakar Kebijakan Publik Nilai Upaya Seskab Teddy Jawab Keresahan Publik dalam Upaya Pemerintah Tangani Bencana Sumatera

“Semalam belajar ulang soal fluide, hipotesis gue sejauh ini, yang menghancurkan jembatan itu bukan cuma deras airnya saja tapi batang kayu besar yang dibawa,” tulis Ferry.

CEO Malaka Project itu menilai, penanganan puing kayu seharusnya menjadi prioritas dalam strategi pemulihan pascabencana, bukan sekadar pekerjaan tambahan setelah air surut.

Terkait hal itu, Ferry memotret fenomena ini dari berbagai peristiwa banjir di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

Ia menilai karakter daerah aliran sungai di wilayah tersebut memiliki kemiripan dengan negara-negara yang kerap menghadapi banjir bandang, seperti Swiss dan Jepang.

Halaman:

Editor: Arman Odie

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X