Minggu, 19 Juli 2026

Hanjuang Bodas: Pohon Sakral Kerajaan Pajajaran Moksa Bersama Prabu Siliwangi

Photo Author
Bang Sufi, Portaloka
- Kamis, 29 Januari 2026 | 10:38 WIB
Pohon Hanjuang Bodas disebut-sebut sebagai lambang Kerajaan Pajajaran (Istimewa)
Pohon Hanjuang Bodas disebut-sebut sebagai lambang Kerajaan Pajajaran (Istimewa)

Ketika Pajajaran memasuki detik-detik kejatuhannya, ribuan pasukan musuh mengepung tanpa ampun. Di tengah kekacauan itulah sejarah berbelok.

Pertanyaan pun muncul hingga kini: apa yang sebenarnya diselamatkan para pengawal setia raja? Hanjuang Bodas, ataukah Pakujajar? Dua pohon yang serupa rupa, namun berbeda makna.

Baca Juga: Dukung Program Tiga Juta Rumah, BRI Salurkan KPR Subsidi Rp16,16 Triliun kepada 118 Ribu Debitur hingga Tahun 2025

Tiga tokoh utama tampil sebagai bayang-bayang kesetiaan terakhir: Ki Buluh Panunjang, Ki Luntang Kendengan, dan Ki Haur Tangtu.

Mereka ibarat pasukan pengamanan kerajaan di masa kini, tak beranjak dari sisi Prabu Siliwangi hingga detik terakhir.

Bersama sang raja, mereka meninggalkan Bogor, menuju takdir akhir yang misterius: ngahiyang di Nusa Larang, Sukabumi, berpindah dari alam nyata ke alam carita.

Di saat perang memuncak, Aki Santarupa mencabut Hanjuang Bodas agar tidak jatuh ke tangan musuh. Namun hujan anak panah merenggut nyawanya.

Baca Juga: Dari Gunung Galuh ke Keraton Cirebon: Sejarah yang Kembali Bicara akan Sosok Pangeran Arya Natareja

Dalam hembusan napas terakhir, ia melempar pohon itu ke arah Wilangnatadani, Patih Taman. Sayangnya, Natadani tengah sibuk menangkis serangan. Pohon itu terjatuh ke semak belukar, lenyap dari pandangan.

Dengan keyakinan dan kepasrahan, Natadani meraba-raba dan mencabut pohon lain. Ia tak tahu bentuk Hanjuang Bodas, namun hatinya bersumpah: “Bisi kaula gugur, ieu kudu salamet.”

Pohon itu diserahkan kepada tiga pengawal utama. Tak lama kemudian, Natadani gugur di medan laga. Dan baru belakangan disadari, pohon yang diselamatkan itu bukan Hanjuang Bodas, melainkan Pakujajar.

Setelah Prabu Siliwangi ngahiyang, ketiga pengawal itu terus bergerak, berpindah dari satu tempat ke tempat lain, menghindari kejaran musuh Pajajaran. Di setiap tanah yang mereka singgahi, Pakujajar ditanam sebagai simbol kerajaan yang mereka yakini.

Baca Juga: Menjemput Ramadhan dari Tanah Wali: Wisata Religi Ciamis Kian Dilirik

Dari perjalanan sunyi inilah kelak tumbuh kampung-kampung adat Sunda yang bertahan hingga hari ini: Bayah di Banten, hingga Ciptagelar di Sukabumi.

Lalu, di manakah Hanjuang Bodas yang asli?

Halaman:

Editor: Arman Odie

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X