Suasana kebersamaan terasa kental. Guru-guru tidak berdiri sebagai pengajar semata, tetapi hadir sebagai pembimbing yang menemani perjalanan spiritual murid-muridnya. Mereka menyelipkan motivasi, cerita, dan teladan dalam setiap kesempatan.
Bagi para siswa, Ramadhan di madrasah bukan hanya soal menunggu waktu pulang atau menghitung jam berbuka. Ia adalah kenangan tentang belajar menjadi pribadi yang lebih baik, meski dengan langkah kecil.
Pihak madrasah percaya, apa yang ditanam hari ini akan tumbuh di masa depan. Hafalan yang masih terbata-bata itu kelak bisa menjadi pegangan hidup. Kebiasaan salat yang masih dibimbing itu bisa menjadi kebutuhan jiwa.
Di MIS Sitularang, Ramadhan tidak hanya lewat sebagai kalender tahunan. Ia meninggalkan jejak-jejak iman dan akhlak, di hati anak-anak yang kelak akan tumbuh dan mengingat bahwa di sebuah madrasah sederhana, mereka pernah belajar menjadi manusia.***