Suasana kebersamaan terasa kental. Guru-guru tidak berdiri sebagai pengajar semata, tetapi hadir sebagai pembimbing yang menemani perjalanan spiritual murid-muridnya. Mereka menyelipkan motivasi, cerita, dan teladan dalam setiap kesempatan.
Bagi para siswa, Ramadhan di madrasah bukan hanya soal menunggu waktu pulang atau menghitung jam berbuka. Ia adalah kenangan tentang belajar menjadi pribadi yang lebih baik, meski dengan langkah kecil.
Pihak madrasah percaya, apa yang ditanam hari ini akan tumbuh di masa depan. Hafalan yang masih terbata-bata itu kelak bisa menjadi pegangan hidup. Kebiasaan salat yang masih dibimbing itu bisa menjadi kebutuhan jiwa.
Di MIS Sitularang, Ramadhan tidak hanya lewat sebagai kalender tahunan. Ia meninggalkan jejak-jejak iman dan akhlak, di hati anak-anak yang kelak akan tumbuh dan mengingat bahwa di sebuah madrasah sederhana, mereka pernah belajar menjadi manusia.***
Artikel Terkait
Hujan Deras Picu Longsor di Sukahaji Ciamis, Warga Gotong Royong Selamatkan Jalan dan Rumah Tetangga
Ngabuburit: Falsafah Menunggu Senja dan Jalan Sunyi Dakwah yang Menyatukan
98.036 Guru Ikuti UP PPG Angkatan 4, Kemenag Sebut Upaya Sejahterakan Pendidik: Setelah Lulus Dapat TPG
FGSNI Apresiasi Komisi VIII DPR RI yang Menjamin Realisasi Pengangkatan PPPK Guru Madrasah Swasta
Garitan Kalongliud: Model Pertanian Sirkular Terpadu ANTAM untuk Ketahanan Pangan dan Penguatan Ekonomi Desa
Pembangunan Huntap di Tapanuli Terus Berjalan, Kerangka Rumah dan Batu Bata Tersusun Rapi
Tanggapi Konten Alumni LPDP ‘Cukup Aku yang WNI, Anak-anakku Jangan’, Purbaya Ingatkan Beasiswa dari Uang Pajak Rakyat
Merawat Tanah, Menambang Harapan: Jalan Sunyi Wahyudin Mengubah Wajah Kalongliud