CIAMIS, PORTALOKA.ID - Pagi itu, matahari belum sepenuhnya tinggi ketika suara lirih ayat-ayat suci mulai mengalun dari ruang kelas sederhana di Madrasah Ibtidaiyah Swasta (MIS) Sitularang.
Anak-anak berseragam rapi duduk bersila, sebagian masih mengeja dengan pelan, sebagian lagi sudah lancar melafalkan.
Di wajah mereka, Ramadhan bukan sekadar bulan puasa. Ia adalah pengalaman belajar yang terasa berbeda—lebih hangat, lebih khusyuk, dan lebih membekas.
Di madrasah kecil ini, Ramadhan 1447 Hijriah tidak hanya diisi dengan pelajaran biasa. Ia menjelma menjadi ruang pembentukan jiwa.
Para siswa tidak sekadar belajar membaca dan menulis, tetapi juga belajar memahami makna bersuci, menegakkan salat, hingga menghormati orang tua dan guru.
Kepala MIS Sitularang, Eba Hermawan, S.Pd.I., memandang bulan suci sebagai kesempatan yang tak tergantikan untuk menanamkan nilai-nilai kehidupan yang lebih dalam.
“Ramadhan adalah waktu terbaik untuk membiasakan anak-anak mendekat kepada Allah dan memperkuat akhlaknya. Kami ingin mereka tidak hanya tahu, tapi juga terbiasa menjalankan,” tuturnya, Senin, 23 Februari 2026 dengan nada penuh harap.
Setiap pagi, kegiatan dimulai dengan praktik salat dhuha. Anak-anak berbaris rapi, menengadahkan tangan dalam doa, seolah menitipkan harapan kecil mereka ke langit.
Baca Juga: Merawat Tanah, Menambang Harapan: Jalan Sunyi Wahyudin Mengubah Wajah Kalongliud
Setelah itu, mereka melanjutkan dengan tadarus Al-Qur’an, menghafal surat-surat pendek, serta mempelajari doa-doa harian yang kelak akan mereka bawa hingga dewasa.
Di sudut lain, seorang guru dengan sabar membimbing cara berwudhu yang benar. Air yang mengalir di tangan anak-anak itu bukan sekadar membasuh anggota tubuh, tetapi juga seperti membersihkan ketidaktahuan mereka tentang makna bersuci.
Pembelajaran fiqih tentang puasa pun tidak hanya berhenti pada teori. Guru-guru mengaitkannya dengan kehidupan sehari-hari—tentang menahan amarah, belajar jujur, dan merasakan lapar sebagai jalan memahami penderitaan orang lain.
Artikel Terkait
Hujan Deras Picu Longsor di Sukahaji Ciamis, Warga Gotong Royong Selamatkan Jalan dan Rumah Tetangga
Ngabuburit: Falsafah Menunggu Senja dan Jalan Sunyi Dakwah yang Menyatukan
98.036 Guru Ikuti UP PPG Angkatan 4, Kemenag Sebut Upaya Sejahterakan Pendidik: Setelah Lulus Dapat TPG
FGSNI Apresiasi Komisi VIII DPR RI yang Menjamin Realisasi Pengangkatan PPPK Guru Madrasah Swasta
Garitan Kalongliud: Model Pertanian Sirkular Terpadu ANTAM untuk Ketahanan Pangan dan Penguatan Ekonomi Desa
Pembangunan Huntap di Tapanuli Terus Berjalan, Kerangka Rumah dan Batu Bata Tersusun Rapi
Tanggapi Konten Alumni LPDP ‘Cukup Aku yang WNI, Anak-anakku Jangan’, Purbaya Ingatkan Beasiswa dari Uang Pajak Rakyat
Merawat Tanah, Menambang Harapan: Jalan Sunyi Wahyudin Mengubah Wajah Kalongliud