Baca Juga: Perbandingan Gaji Pegawai SPPG MBG dengan Guru Honorer, Selisih Capai Rp4 Juta per Bulan
Pak Ribut mengungkapkan bagaimana respons kedua orang tuanya saat dia menerima gaji Rp25.000.
Kedua orang tua Pak Ribut memintanya untuk tetap bersyukur atas gaji tersebut meskipun nominalnya kecil.
"Ibu dan bapak bilang, harus disyukuri berapapun besar kecilnya nominal gaji, nggak boleh mengeluh, tetap semangat. Karena ibu juga bilang karena kesuksesan itu bukan dari gaji kecil, kalau kita ikhlas untuk memberikan sesuatu kepada orang lain pasti kesuksesan akan menghampiri kita," kenangnya.
Baca Juga: Guru Madrasah Digaji Rp100 Ribu, Kemenag dan DPR Sepakat Bentuk Panja sebagai Solusi Komprehensif
Berikan Gaji untuk Muridnya
Ditanya gaji Rp25 ribu digunakan untuk apa, Pak Ribut mengatakan kalau gaji yang diterimanya diberikan untuk jajan murid-muridnya.
"Uang itu saya kasihkan anak-anak aja buat jajan. Jadi saya nggak pernah menerima gaji itu," tuturnya.
Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Pak Ribut mengaku memiliki pekerjaan sampingan.
Sebab, gaji Rp25 ribu yang diterimanya sebagai guru honorer tidak cukup untuk kebutuhan dirinya dan keluarga.
Alasan Bertahan jadi Guru Honorer
Lebih lanjut, Pak Ribu mengungkapkan alasan dirinya tetap bertahan sebagai guru honorer meski gajinya kecil.
Menurutnya, guru bukanlah pekerjaan melainkan pengabdian untuk mendidik anak-anak.
"Guru itu bukan pekerjaan, karena guru itu panggilan hati, pengabdian untuk mendidik anak bangsa, tanpa guru kita bukan siapa-siapa. Karena guru itu pondasi bangsa yang menguatkan kita untuk menjadi sukses dan pintar," tegasnya.