Minggu, 19 Juli 2026

Mendiktisaintek Siap Kerahkan Kampus Tangani Sampah di Kota Bandung

Photo Author
Cecep Arisandi, Portaloka
- Rabu, 25 Februari 2026 | 21:11 WIB
Mendiktisaintek Brian Yuliarto akan kerahkan mahasiswa untuk ikut atasi masalah sampah di Kota Bandung (Ist)
Mendiktisaintek Brian Yuliarto akan kerahkan mahasiswa untuk ikut atasi masalah sampah di Kota Bandung (Ist)

Baca Juga: Viral Guru Honorer di Probolinggo Jadi Tersangka usai Diduga Rangkap Jabatan, Gajinya Dianggap Kerugian Negara

Namun, berdasarkan evaluasi Kementerian Lingkungan Hidup, sampah yang benar-benar terkelola dipilah, diolah, dimanfaatkan baru sekitar 21,63 persen. Sisanya masih mengalir ke TPA atau tercecer di lingkungan.

“Mindset yang harus kita ubah adalah ‘saya sudah bayar, sampah harus hilang’. Itu keliru. Sampah bukan soal hilang, tapi harus dikelola,” sebut Farhan.

Ia juga menyoroti praktik pembuangan sampah liar di wilayah perbatasan dan kawasan tertentu, termasuk keterlibatan oknum dalam rantai pengangkutan tidak resmi.

Sebagai jawaban atas persoalan hulu, Pemkot Bandung meluncurkan program Gaslah (Petugas Pemilah dan Pengolah Sampah).

Baca Juga: Curhat Petugas Damkar yang Diteror usai Bagikan Konten ‘Fungsi Helm’: Kalau Nanti Saya Kenapa-napa, Kalian Sudah Tahu

Pemkot Bandung telah merekrut sebanyak 1.597 petugas Gaslah atau satu orang per RW untuk mengetuk pintu rumah warga, mengedukasi pemilahan, sekaligus mengangkut sampah organik. Setiap petugas ditargetkan mengumpulkan minimal 25 kilogram sampah organik per hari.

Program ini ditopang anggaran sekitar Rp24 miliar per tahun dan dipantau melalui dashboard digital real-time yang juga menjadi indikator kinerja camat dan lurah.

“Tanpa rekayasa sosial dan enforcement, tidak akan selesai. Hulu harus beres dulu,” ujar Farhan.

Pemkot Bandung juga mengintegrasikan Kang Pisman, Buruan Sae, dan Dapur Sehat Atasi Stunting dalam satu ekosistem sirkular.

Baca Juga: Siswa SD Asal Bandung yang Diundang NASA usai Raih Juara Olimpiade Sains Internasional, Koleksi 18 Medali

Sampah organik diolah jadi kompos/maggot dimanfaatkan urban farming hasil panen untuk dapur warga sisa dapur kembali dikelola.

“Inilah sirkular Bandung Utama. Kita bangun budaya, bukan hanya teknologi,” katanya.

Kunci keberhasilan, menurut Farhan, adalah menurunkan produksi sampah per orang. Saat ini, warga Bandung menghasilkan rata-rata 0,58 kg sampah per hari. Targetnya ditekan di bawah 0,4 kg.

“Kalau kesadaran tidak dibangun, teknologi apa pun nanti ambyar,” katanya.***

Halaman:

Editor: Arman Odie

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X