Pembaca yang budiman, di rubrik Lokacarita akan kami tampilkan serial cerpen Kanjeng Sunan yang berlatar belakang Kerajaan masa lalu. Kanjeng Sunan adalah sosok Waliyullah sosok yang mewakili ajaran langit dan bersentuhan dengan budaya Nusantara. Yuks kita ikuti kisahnya.
PORTALOKA.ID - Pasukan adat Cimaung yang membakar masjid tua rupanya ditanggapi sengit oleh pasukan Macan Ali Cirebon. Mendengar Kanjeng Sunan diperlakukan tidak adil, panglima Macan Ali berencana melakukan perlawanan.
Kampung Cimaung pada tahun 1529 M benar-benar menjadi batas terakhir periode kejayaan Pajajaran. Pun masalah agama, nampaknya inilah senjakala keyakinan Sanghyang. Fajar Islam telah bersinar di Kampung Cimaung.
Langit Cimaung belum benar-benar pulih dari asap ketika kabar itu datang seperti gelegar petir. Masjid tua yang semalam dibakar atas perintah Arya Damar masih menyisakan arang dan tiang-tiang hitam menjulang seperti jari-jari yang menuduh langit.
Warga berdiri mematung, antara marah dan takut. Di tengah reruntuhan itu, Kanjeng Sunan hanya menunduk, jemarinya menyentuh tanah yang masih hangat oleh bara kebencian.
Baca Juga: Serial Kanjeng Sunan - Bagian 9: Ketika Hantu Lebih Dipercaya daripada Manusia
“Api membakar kayu,” katanya lirih, “tapi dendam membakar jiwa.” Namun sejarah jarang memberi ruang pada kelirihan. Dari arah utara, debu mengepul.
Pasukan Macan Ali dari Cirebon bergerak seperti ombak cokelat, tombak berkilau di bawah matahari. Kabar cepat menyebar: mereka datang bukan sekadar menuntut penjelasan, tetapi membawa murka. Di seberang bukit, para pemuda Cimaung sudah bersiap dengan golok dan bambu runcing.
Sebagian masih gemetar, sebagian lagi terlalu marah untuk merasa takut.
Konon, utusan telah dikirim kepada Kanjeng Sunan untuk meminta keadilan. Tetapi keadilan sering berjalan lambat, sedangkan kemarahan menunggang kuda tercepat.
Baca Juga: Serial Kanjeng Sunan - Bagian 10: Api di Cimaung, Ketika Doa Dibakar Amarah
Maka pagi itu, sebelum doa selesai dilangitkan, pekik perang sudah lebih dahulu mengoyak udara. Benturan pertama terjadi di sawah yang baru ditanami. Lumpur memercik bersama darah.
Pasukan Macan Ali Cirebon yang terlatih bergerak rapi, sementara laskar Cimaung bertarung dengan keberanian yang lebih mirip keputusasaan.
Di atas batu besar, Kanjeng Sunan berdiri, tidak mengangkat senjata, hanya mengangkat tangan. Ia berseru agar kedua pihak menahan diri, tetapi suara kebijaksanaan kalah nyaring oleh deru logam beradu.
Di tengah kekacauan itu, muncul kabar yang lebih pedih: Arya Damar tak tampak di garis depan. Ia bagai bayang-bayang yang menyulut api lalu bersembunyi dari panasnya sendiri.