“Kalau masjid dibakar, kita bangun lagi,” kata seorang di antara mereka.
Kanjeng Sunan tersenyum tipis.
Fitnah memang bisa membakar nama, tapi ia tak pernah benar-benar mampu memadamkan keyakinan.
Di langit Cimaung, bulan menggantung pucat. Kampung itu terasa gaib antara adat dan akal sehat, antara takut dan harap.
Baca Juga: Misalin: Tradisi Budaya Galuh Salawe, Simbol Syi'ar Islam dalam Upacara Adat
Dan di ujung malam, Kanjeng Sunan berdoa bukan agar dirinya dibela,melainkan agar warga yang memfitnahnya kelak menemukan cahaya yang sama.
Sebab kadang, yang paling keras menuduh sesat adalah yang paling takut kehilangan kuasa.*** (Bersambung)