Kalimat itu menyebar seperti wabah, lebih ditakuti daripada penyakit.
Suatu malam, sesajen lengkap dipersembahkan. Namun anak seorang janda tetap mati kelaparan.
Sunyi.
Tak ada makhluk gaib datang menjelaskan.
Tak ada mantra yang meminta maaf.
Di situlah akal sehat mengetuk, pelan tapi keras.
Kampung Cimaung belum memilih. Apakah akal sehat atau tetap mantra gaib? Yang pasti gaib masih berkuasa, dan akal sehat masih dicurigai.
Baca Juga: Ngikis: Pertemuan Islam dan Tradisi Budaya Sanghyang Galuh
Namun satu hal berubah. Orang-orang mulai sadar, bahwa ketakutan bisa diwariskan tapi kesadaran harus diperjuangkan.
Kanjeng Sunan berkata lirih:
“Gaib bukan musuhku. Yang ku tentang adalah kebodohan yang berlindung di baliknya.”*** (Bersambung)