Kalimat itu menyebar seperti wabah, lebih ditakuti daripada penyakit.
Suatu malam, sesajen lengkap dipersembahkan. Namun anak seorang janda tetap mati kelaparan.
Sunyi.
Tak ada makhluk gaib datang menjelaskan.
Tak ada mantra yang meminta maaf.
Di situlah akal sehat mengetuk, pelan tapi keras.
Kampung Cimaung belum memilih. Apakah akal sehat atau tetap mantra gaib? Yang pasti gaib masih berkuasa, dan akal sehat masih dicurigai.
Baca Juga: Ngikis: Pertemuan Islam dan Tradisi Budaya Sanghyang Galuh
Namun satu hal berubah. Orang-orang mulai sadar, bahwa ketakutan bisa diwariskan tapi kesadaran harus diperjuangkan.
Kanjeng Sunan berkata lirih:
“Gaib bukan musuhku. Yang ku tentang adalah kebodohan yang berlindung di baliknya.”*** (Bersambung)
Artikel Terkait
Kemensos Umumkan Hasil Seleksi PPPK Tendik Sekolah Rakyat, Cek Daftar Peserta yang Lulus Seleksi DI SINI!
PSGC Ciamis Raih Tiket Promosi ke Liga 2 Usai Adu Penalti Dramatis Lawan Persiba Bantul
10 Dokumen Penting yang Wajib Diunggah untuk Usul Nomor Induk PPPK Tendik Sekolah Rakyat
Masih Ada Harapan! Guru Madrasah Swasta Berpeluang Diangkat jadi PPPK, Ini Kata Kemenag
Update Pembangunan Huntara dan Huntap di Aceh dan Sumbar, Banyak yang Rampung dan Siap Huni
Warga RT01 RW09 Perum Kota Galuh Ciamis Sambut Datangnya Ramadhan 1447 Hijriah dengan Munggahan
Viral Cerita Anak Tak Sengaja Gores Mobil Orang Lain, sang Ibu Tulis Secarik Kertas demi Tunjukkan Arti Tanggung Jawab
Misalin: Tradisi Budaya Galuh Salawe, Simbol Syi'ar Islam dalam Upacara Adat
Didampingi Raja Sayang, Bupati TRK Serahkan 2.150 SK PPPK Paruh Waktu
Seskab Teddy bersama Warga Malang Asyik Nobar Timnas Futsal Indonesia Tampil di Laga Final Lawan Iran