Kanjeng Sunan bertanya pelan:
“Atau tanahnya rusak karena kita malas merawat?”
Pertanyaan itu dianggap penghinaan. Di Cimaung. Akal sehat sering dikira setan paling berbahaya.
Baca Juga: Serial Kanjeng Sunan - Bagian 8: Setelah Raja Pergi, Siapa yang Tinggal?
Arya Damar, penjaga ajaran lama, muncul membawa legitimasi gaib.
Ia berkata lantang:
“Kalau semua dijelaskan dengan akal,
lalu untuk apa takut?”
Kanjeng Sunan menjawab dingin:
“Takut yang tak mendidik hanya melahirkan budak.”
Pertarungan mereka bukan adu kesaktian, tapi ada cara memandang dunia.
Arya Damar menjual keselamatan lewat ritual. Kanjeng Sunan menawarkan keselamatan lewat kerja dan tanggung jawab.
Baca Juga: Misalin: Tradisi Budaya Galuh Salawe, Simbol Syi'ar Islam dalam Upacara Adat
Arya Damar berkata:
“Jangan melawan takdir.”
Kanjeng Sunan menyahut:
“Takdir malas itu buatan manusia.”
Warga terbelah.
Sebagian memilih kemenyan, lebih mudah, lebih cepat. Sebagian memilih keringat, lebih sakit, lebih nyata.
Arya akan menggunakan gaib untuk menutup mulut. Mereka yang bertanya mulai dituduh:
“Didatangi makhluk halus.”
“Imannya goyah.”
“Dikuasai roh asing.”
Padahal yang kerasukan bukan tubuh,
melainkan pikiran yang mulai merdeka.
Kanjeng Sunan berkata pada warga:
“Gaib itu ada. Tapi ia tidak boleh dijadikan alasan untuk tidak berpikir.”
Baca Juga: Hanjuang Bodas: Pohon Sakral Kerajaan Pajajaran Moksa Bersama Prabu Siliwangi