Pembaca yang budiman, di rubrik Lokacarita akan kami tampilkan serial cerpen Kanjeng Sunan yang berlatar belakang Kerajaan masa lalu. Kanjeng Sunan adalah sosok Waliyullah sosok yang mewakili ajaran langit dan bersentuhan dengan budaya Nusantara. Yuks kita ikuti kisahnya.
PORTALOKA.ID - Di Kampung Cimaung, kabar gaib selalu lebih cepat dari kabar lapar. Sebelum ayam berkokok, orang sudah tahu pohon mana yang “marah”, batu mana yang “tersinggung”, dan sungai mana yang “minta sesajen”.
Itu sudah menjadi sistem keyakinan masyarakat. Akal sehat tidak selalu berguna, apalagi nalar kritis.
Tak ada warga yang bertanya kenapa sawah gagal panen?. Kenapa anak-anak kurus? Kenapa orang miskin selalu disuruh sabar?
Di kampung ini bertanya dianggap kurang ajar dan tidak sopan. Ada rasa takut mempertanyakan sesuatu.
Baca Juga: Serial Kanjeng Sunan - Bagian 6: Negeri Tak Bertuan, Cahaya Islam Mulai Bersinar
Kanjeng Sunan terjebak di kampung dua dimensi. Ini yang menyebabkan Kanjeng Sunan juga mengerahkan gaib dari bangsa Jaan.
Siang hari, Kampung Cimaung tampak biasa, ladang, gubuk, dan orang-orang menunduk. Malam hari, kampung berubah, mantra-mantra kuno dibaca diiringi asap kemenyan. Lebih nyata dari logika dan
mantra lebih didengar daripada tangis bayi.
Orang lebih takut pada makhluk tak kasatmata daripada pada ketidakadilan yang kasatmata. Para pejabat kampung kaki tangan Raden Arya Damar yang kejam pun dianggap keniscayaan.
Kanjeng Sunan mengamati semuanya. Ia tidak mengusir gaib. Ia hanya memindahkan pusat ketakutan.
Baca Juga: Serial Kanjeng Sunan - Bagian 7: Satu Tuhan Tapi Beda Jalan
Ritual atau Alasan untuk Tidak Berubah
Kanjeng Sunan memilih ritual kuno untuk dijadikan obyek dakwah. Mantra-mantra diubah dengan doa-doa yang langsung kepada Allah.
Setiap gagal panen, para tetua kampung Cimaung berkata:
“Penunggu hutan murka.”